MALANG, Garudasatunews.id – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Brawijaya (UB) berlangsung di bawah pengamanan berlapis, menyusul meningkatnya potensi kecurangan berbasis teknologi. Sebanyak 16.225 peserta tercatat mengikuti ujian yang digelar di berbagai titik kampus hingga 26 April 2026.
Pelaksanaan ujian dibagi ke dalam 11 sesi selama enam hari, tersebar di belasan lokasi strategis. Panitia menyiapkan 67 ruang ujian di 16 fakultas serta Laboratorium Komputer Direktorat Teknologi Informasi, dengan dukungan 1.540 unit komputer utama dan 165 perangkat cadangan untuk mengantisipasi gangguan teknis.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., menyatakan kesiapan infrastruktur dilakukan secara menyeluruh melalui uji berkala. Sistem pengamanan juga diperkuat dengan pemasangan CCTV, dukungan UPS, serta genset guna menjamin stabilitas selama ujian berlangsung.
Namun, sorotan utama terletak pada pola pengawasan peserta yang diperketat secara signifikan. Panitia menerapkan pemeriksaan berlapis menggunakan metal detector serta inspeksi fisik mendetail terhadap atribut yang dikenakan peserta, termasuk kacamata, kancing baju, hingga potensi perangkat tersembunyi lainnya.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tren kecurangan canggih yang memanfaatkan perangkat mikro seperti kamera tersembunyi dan alat komunikasi ilegal. Sistem jaringan ujian juga dikunci untuk mencegah akses dari luar, termasuk upaya intervensi lintas negara yang pernah terjadi dalam kasus serupa secara nasional.
“Kami melakukan screening cepat dan ketat, memastikan tidak ada celah sekecil apa pun bagi penyalahgunaan teknologi selama ujian,” ujar Prof. Imam Santoso dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Pada hari pertama pelaksanaan, tingkat kehadiran peserta mencapai 97,4 persen. Dari 1.540 peserta yang dijadwalkan pada sesi awal, hanya 40 orang yang tidak hadir. Hingga laporan terakhir, panitia belum menemukan indikasi pelanggaran maupun kendala teknis signifikan.
Di sisi lain, UB juga memfasilitasi 13 peserta difabel yang terdiri dari penyandang tunarungu, tunadaksa, dan tunanetra. Panitia menyediakan pendampingan khusus serta akses ruang yang disesuaikan guna memastikan seluruh peserta mendapatkan hak yang setara tanpa mengurangi standar pengawasan.
Koordinator Pelaksana UTBK UB, Arif Hidayat, M.M., menegaskan bahwa verifikasi identitas dilakukan secara ketat untuk seluruh peserta, termasuk kelompok difabel, demi menjaga integritas seleksi nasional.
Persaingan masuk UB melalui jalur SNBT 2026 tercatat sangat ketat. Dari total 66.412 peminat, hanya tersedia 5.793 kursi, menunjukkan rasio seleksi yang tinggi dan meningkatkan potensi tekanan bagi peserta.
Untuk menjaga ketertiban, pihak kampus juga memberlakukan pengaturan lalu lintas ketat di sekitar area ujian. Pengantar dan pengemudi ojek daring diminta hanya menurunkan peserta di gerbang kampus guna menghindari kepadatan di dalam area.
Direktur Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik, Dr. Rosihan Asmara, S.E., M.P., menyebutkan total 455 personel dilibatkan, termasuk pengawas, teknisi, dan sembilan tim monitoring dan evaluasi guna memastikan pelaksanaan berjalan sesuai standar dan bebas intervensi.
Pengamanan berlapis yang diterapkan UB menjadi indikator meningkatnya kewaspadaan institusi pendidikan terhadap ancaman kecurangan berbasis teknologi, sekaligus menguji efektivitas sistem pengawasan dalam menjaga kredibilitas seleksi nasional.(Red-Garudasatunews)















