PROBOLINGGO, Garudasatunews.id – Penutupan ruas Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) selama empat hari berdampak terhadap arus kendaraan angkutan barang di Kota Probolinggo. Sejumlah truk kemudian memadati ruas Jalan Prof. Dr. Hamka yang menjadi salah satu jalur alternatif kendaraan.
Kondisi tersebut membuat aktivitas lalu lintas di kawasan Jalan Prof. Hamka menjadi perhatian. Bertambahnya kendaraan berat di ruas jalan perkotaan berpotensi memengaruhi kelancaran arus lalu lintas, terutama ketika volume kendaraan meningkat pada jam-jam sibuk.
Penutupan sementara jalan tol juga memperlihatkan tingginya ketergantungan arus distribusi kendaraan barang terhadap jaringan jalan alternatif. Ketika akses utama melalui Tol Paspro ditutup, kendaraan angkutan barang harus mencari jalur lain untuk melanjutkan perjalanan.
Jalan Prof. Hamka sendiri merupakan salah satu ruas penting di Kota Probolinggo. Ruas tersebut sebelumnya juga pernah menjadi lokasi kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat. Pada November 2025, sebuah truk bermuatan kayu terguling setelah roda kendaraan terperosok pada bagian gorong-gorong yang ambles di kawasan Jalan Prof. Dr. Hamka.
Fakta tersebut menjadi perhatian tersendiri ketika kendaraan berat mengalami peningkatan akibat pengalihan arus. Infrastruktur jalan, kondisi drainase, kepadatan lalu lintas, serta pengaturan kendaraan angkutan barang menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.
Persoalan pengelolaan ruas Jalan Prof. Hamka juga berkaitan dengan kewenangan jalan. Dokumen Pemerintah Kota Probolinggo menyebut ruas Jalan Prof. Hamka berstatus jalan nasional sehingga pengelolaannya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional.
Dengan kondisi tersebut, penutupan Tol Paspro selama beberapa hari bukan hanya berdampak terhadap perjalanan kendaraan, tetapi juga meningkatkan beban pada jaringan jalan non-tol. Koordinasi antara pengelola jalan, aparat lalu lintas, dan pihak terkait menjadi penting agar pengalihan kendaraan tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.
Pengendara, khususnya pengguna kendaraan kecil yang berbagi ruang jalan dengan truk dan kendaraan berat, juga perlu meningkatkan kewaspadaan. Kepadatan kendaraan serta perbedaan ukuran dan karakteristik kendaraan dapat meningkatkan risiko gangguan lalu lintas apabila tidak diimbangi pengaturan dan pengawasan yang memadai.
Penutupan tol pada akhirnya menunjukkan pentingnya kesiapan jalur alternatif ketika terjadi pembatasan akses jalan utama. Pemerintah dan instansi terkait perlu memastikan kapasitas, keselamatan, serta kondisi infrastruktur pada ruas yang menjadi jalur pengalihan tetap mampu menampung tambahan arus kendaraan.
(Red-Garudasatunews)















