Tiga Pompa Baru Diuji Atasi Banjir Surabaya

oleh -32 Dilihat
oleh
Tiga Pompa Baru Diuji Atasi Banjir Surabaya
Foto caption: Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat sidak rumah pompa Ahmad Yani.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Pemerintah Kota Surabaya mulai menguji efektivitas tiga rumah pompa baru untuk menekan banjir dan genangan yang selama ini menjadi persoalan tahunan di wilayah Surabaya Selatan dan Timur. Tiga rumah pompa tersebut telah beroperasi sejak Januari 2026 di kawasan Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani dengan kapasitas masing-masing 6,5 meter kubik per detik.

Langkah percepatan pembangunan infrastruktur pengendali banjir itu menjadi bagian dari target ambisius Pemkot Surabaya untuk menuntaskan persoalan genangan pada akhir 2026. Namun, di tengah optimisme tersebut, evaluasi terhadap sistem aliran air dan perubahan tata ruang kota menjadi sorotan utama.

Saat meninjau Rumah Pompa Dukuh Menanggal, Senin (4/5/2026), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan kawasan selatan dan timur menjadi prioritas penanganan banjir tahun ini.

“Target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir,” ujar Eri.

Menurutnya, strategi pengendalian banjir dilakukan melalui pembangunan rumah pompa baru, pengerukan saluran, pengaturan elevasi air, hingga pembangunan storage atau penampungan air untuk mengurangi tekanan debit di saluran utama.

Pemkot Surabaya juga merencanakan tambahan rumah pompa di Panjang Jiwo dan kawasan Jalan Nginden Intan Timur depan Gereja Bethany Nginden yang selama ini dikenal sebagai titik rawan genangan saat hujan deras.

Dalam evaluasi lapangan, Pemkot menemukan persoalan utama banjir berasal dari penumpukan beban aliran air di jalur Avour Wonorejo. Selama ini aliran dari kawasan Karah dan Jambangan bertemu di titik yang sama sehingga menyebabkan antrean air dan limpasan ke permukiman warga.

“Kalau di Margorejo banjir, otomatis air akan balik dan menyebabkan wilayah Karah serta Jambangan ikut banjir,” kata Eri.

Untuk mengurai persoalan tersebut, Pemkot mengalihkan sebagian aliran menuju saluran Kebon Agung yang dinilai masih memiliki kapasitas lebih longgar. Rekayasa aliran itu dilakukan dengan menghubungkan saluran ke Kali Surabaya menggunakan sistem pompa.

“Maka saya minta aliran dari Karah-Jambangan yang menuju Margorejo ditutup, lalu dialihkan menuju Kebon Agung,” ujarnya.

Eri juga meminta lurah, camat, dan kepala dinas memahami langsung pola aliran air hingga pengukuran elevasi menggunakan alat teknis seperti theodolite dan waterpass agar penanganan genangan tidak hanya bersifat sementara.

Selain pembangunan rumah pompa, Pemkot menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) di saluran Jemursari hingga Sarono Jiwo untuk memperkuat struktur drainase. Sementara di Panjang Jiwo, pelebaran saluran disebut terkendala jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt sehingga dipilih pembangunan storage air sebagai solusi alternatif.

Pemkot juga menyoroti dampak masif pembangunan permukiman terhadap hilangnya kawasan resapan air. Kondisi itu disebut menyebabkan air hujan langsung masuk ke saluran drainase dan meningkatkan beban pompa secara signifikan.

“Ketika semua resapan habis dengan rumah, maka air hujan langsung masuk ke irigasi,” tutur Eri.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kota Surabaya, Hidayat Syah, menyebut peningkatan debit air akibat padatnya pembangunan kota menjadi tantangan serius dalam pengendalian banjir.

“Dulu lahan terbuka hijau masih banyak. Sekarang air hujan tidak lagi terserap ke tanah melainkan langsung lari ke saluran,” ujarnya.

Menurut Hidayat, Rumah Pompa Ahmad Yani difungsikan untuk mengatasi genangan di kawasan Gayung Kebonsari dan Kebonsari Barat. Sementara Rumah Pompa Margorejo menangani kawasan Margorejo, Bendul Merisi, hingga Sidosermo yang sebelumnya kerap tergenang saat hujan intensitas tinggi.

Ia mengklaim tren genangan di kawasan Sidoresmo mulai menurun sejak rumah pompa beroperasi pada Januari 2026 meski penyempurnaan saluran di kawasan Margorejo masih berlangsung.

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, mengungkapkan Surabaya kini memiliki 90 rumah pompa yang tersebar di berbagai titik.

Pada 2026, pembangunan rumah pompa baru masih akan difokuskan di kawasan padat penduduk seperti Nginden Intan, Panjang Jiwo, Ketintang, Tambak Segaran, dan Margomulyo.

Meski infrastruktur terus ditambah, Pemkot mengingatkan persoalan sampah masih menjadi ancaman serius terhadap efektivitas sistem rumah pompa. Tumpukan sampah di penyaring pompa dinilai dapat menghambat proses penyedotan air dan memperparah genangan saat hujan deras.

“Tolong jangan buang sampah di saluran, karena jika sampah menumpuk di penyaringan rumah pompa, proses penyedotan air otomatis akan terhambat,” pungkas Adi.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.