Tiga Bayi Harimau Langka Lahir di Prigen

oleh -28 Dilihat
oleh
Tiga Bayi Harimau Langka Lahir di Prigen
Bayi harimau di Taman Safari Prigen
banner 468x60

PASURUAN, Garudasatunews.id – Program pengembangbiakan satwa di Taman Safari Indonesia Prigen kembali menuai sorotan setelah kelahiran tiga bayi harimau benggala dengan varian warna langka. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian internal lembaga, tetapi juga memunculkan pertanyaan terkait praktik konservasi, pola perkawinan silang, serta pengelolaan genetik satwa dilindungi.

Data yang dihimpun menunjukkan, dalam satu periode kelahiran, muncul dua varian warna berbeda yakni putih dan oranye—fenomena yang jarang terjadi. Pihak manajemen mengklaim hal tersebut merupakan hasil dari skema breeding terencana. Namun, praktik kawin silang dalam konservasi kerap menjadi perhatian, terutama terkait risiko manipulasi genetik dan dampaknya terhadap keberlanjutan spesies di habitat asli.

Komisaris Taman Safari Indonesia, Willem Manansang, menyebut kelahiran ini sebagai “kado” tahunan. “Kami akhirnya menghasilkan varian putih dan oranye setelah beberapa generasi,” ujarnya, Senin (4/5/2026). Pernyataan ini menegaskan adanya proses panjang rekayasa perkawinan yang patut diawasi transparansinya.

Tiga bayi harimau yang dinamai Rajani, Sri, dan Kandi kini berada dalam pengawasan ketat. Manajemen menyatakan pemantauan dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara intervensi manusia dan insting alami induk. Namun, keterlibatan intensif manusia dalam fase awal kehidupan satwa liar sering dikritik karena berpotensi mengurangi kemampuan adaptasi di alam bebas.

Lebih lanjut, pihak pengelola mengakui adanya praktik pertukaran satwa antarunit safari sebagai strategi menjaga kualitas genetik. Skema ini dinilai efektif secara ilmiah, tetapi juga membuka ruang evaluasi terkait standar etika konservasi dan transparansi perpindahan satwa antar lembaga.

Dari sisi medis, tim dokter hewan menyiagakan fasilitas khusus untuk memastikan kecukupan nutrisi induk dan anak. drh. M. Nanang mengungkapkan pemberian suplemen menjadi langkah utama dalam menjaga daya tahan tubuh bayi harimau. Pendekatan ini menegaskan tingginya intervensi manusia dalam proses tumbuh kembang satwa yang seharusnya liar.

Keberhasilan ini kembali menempatkan Indonesia dalam peta konservasi global. Namun di sisi lain, muncul kebutuhan mendesak akan pengawasan independen untuk memastikan bahwa praktik pengembangbiakan tidak semata berorientasi pada atraksi atau nilai komersial, melainkan benar-benar mendukung pelestarian spesies secara berkelanjutan. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.