SURABAYA, Garudasatunews.id – Fenomena teror pocong yang sempat menghebohkan dan meresahkan warga Surabaya akhirnya terungkap sebagai konten hasil rekayasa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menyikapi peristiwa tersebut, Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Azhar Kahfi, mendesak penguatan literasi digital masyarakat guna mencegah penyebaran informasi menyesatkan yang berpotensi memicu kepanikan publik.
Kahfi menilai maraknya penyebaran konten manipulatif berbasis AI tanpa proses verifikasi menjadi ancaman serius di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Menurutnya, informasi palsu yang dikonsumsi masyarakat tanpa pengecekan fakta dapat dengan cepat menciptakan keresahan sosial.
“Kasus ini menunjukkan bahwa teknologi bisa digunakan untuk hal positif maupun negatif. Ketika masyarakat langsung percaya tanpa verifikasi, maka informasi palsu sangat mudah menciptakan kepanikan,” ujar Kahfi, Senin (1/6/2026).
Politisi Partai Gerindra tersebut menegaskan bahwa penyebaran konten rekayasa AI yang berdampak pada ketertiban masyarakat tidak dapat dipandang sebagai sekadar candaan atau aksi iseng di media sosial. Ia menilai terdapat konsekuensi sosial yang nyata ketika informasi palsu berkembang tanpa kontrol.
“Kalau sudah menimbulkan keresahan dan mengganggu ketertiban masyarakat, tentu ini bukan lagi persoalan iseng. Ada dampak sosial yang harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Kahfi juga mendorong Pemerintah Kota Surabaya bersama aparat penegak hukum untuk meningkatkan edukasi dan literasi digital secara berkelanjutan kepada masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar warga memiliki kemampuan mengenali, memilah, dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
“Edukasi harus terus dilakukan karena sekarang teknologi AI semakin mudah diakses. Masyarakat perlu dibekali kemampuan membedakan mana informasi asli dan mana yang merupakan hasil manipulasi digital,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kahfi mengingatkan bahwa kepanikan publik akibat informasi palsu dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap kritis, tidak mudah terpengaruh isu yang belum terverifikasi, serta mengedepankan pengecekan fakta sebelum membagikan informasi kepada orang lain.
“Jangan sampai masyarakat sibuk mempercayai isu-isu mistis yang belum jelas kebenarannya, sementara ada potensi gangguan keamanan lain yang justru luput dari perhatian. Yang paling penting adalah tetap tenang, kritis, dan melakukan pengecekan fakta sebelum menyebarkan informasi,” pungkasnya.
(Red-Garudasatunews)















