KEDIRI, Garudasatunews.id – National Hospital Surabaya memperkenalkan perkembangan teknologi bedah jantung modern kepada masyarakat Kediri melalui kegiatan edukasi kesehatan (health talk) yang digelar di Alinea Kediri, Jumat (12/6/2026). Dalam kegiatan tersebut, rumah sakit menghadirkan Dokter Spesialis Bedah Kardiotoraks dan Pembedahan Vaskular, dr. Edwin Yosef Widjaja, M.Ked.Klin., Sp.BTKV, Subsp.JD(K), FIATCVS, FICS.
Dalam pemaparannya, dr. Edwin mengungkapkan bahwa penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Karena itu, perkembangan teknologi medis dan metode pembedahan dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan serta kualitas hidup pasien.
Salah satu metode yang menjadi sorotan adalah operasi bypass koroner, yaitu prosedur pembuatan jalur aliran darah baru menuju jantung dengan memanfaatkan pembuluh darah dari bagian tubuh lain. Menurut dr. Edwin, tindakan tersebut masih menjadi standar utama atau gold standard bagi pasien dengan tingkat penyumbatan pembuluh darah koroner yang berat dan tidak lagi dapat ditangani secara optimal melalui pemasangan stent.
Dalam forum edukasi tersebut, National Hospital Surabaya juga memperkenalkan teknologi Endoscopic Vessels Harvesting (EVH), sebuah teknik minimal invasif untuk pengambilan pembuluh darah dari kaki yang digunakan dalam operasi bypass koroner.
Teknologi EVH memungkinkan proses pengambilan pembuluh darah dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil dibandingkan metode konvensional. Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat pemulihan pasien, menekan risiko infeksi, serta meminimalkan bekas luka pascaoperasi.
“Teknologi ini memungkinkan pengambilan pembuluh darah kaki dengan sayatan yang sangat minimal sehingga lebih nyaman bagi pasien,” ujar dr. Edwin.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa operasi bypass koroner tidak hanya berfungsi mengurangi keluhan nyeri dada maupun sesak napas akibat penyumbatan pembuluh darah jantung, tetapi juga berpotensi meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Menurutnya, sejumlah studi dan pengalaman klinis menunjukkan prosedur tersebut dapat memperpanjang harapan hidup pasien hingga 10 sampai 15 tahun, bahkan lebih lama pada kondisi tertentu, apabila disertai pengendalian faktor risiko secara konsisten.
Meski demikian, dr. Edwin menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang tidak hanya bergantung pada tindakan medis. Perubahan pola hidup tetap menjadi faktor utama dalam mencegah terjadinya penyumbatan berulang maupun komplikasi penyakit jantung.
Masyarakat diimbau menerapkan pola makan sehat, mengendalikan kadar gula darah, menjaga tekanan darah tetap stabil, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur. Untuk olahraga, ia merekomendasikan jalan cepat selama 30 menit per hari sebanyak lima kali dalam seminggu sebagai langkah sederhana menjaga kesehatan jantung.
Pada kesempatan yang sama, dr. Edwin juga mengingatkan bahwa penyakit jantung koroner dapat mulai berkembang sejak usia muda akibat proses penumpukan plak pada pembuluh darah yang berlangsung secara perlahan dan sering kali tanpa gejala.
Ia menilai kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, pengendalian faktor-faktor tersebut menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan penyakit jantung koroner.
Dalam sesi diskusi bersama peserta, dr. Edwin mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman di area dada. Gejala tersebut, kata dia, dapat menjadi tanda awal gangguan jantung yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
“Kalau ada rasa tidak nyaman di dada, sebaiknya segera periksa ke dokter. Lebih baik memastikan lebih awal apakah itu penyakit jantung atau bukan,” tegasnya.
Melalui kegiatan edukasi dan dialog langsung dengan masyarakat tersebut, National Hospital Surabaya berharap kesadaran publik terhadap pentingnya deteksi dini penyakit jantung terus meningkat sehingga risiko komplikasi dapat ditekan sejak tahap awal. Selain mendapatkan edukasi kesehatan, peserta juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai program layanan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan gratis yang disediakan panitia kegiatan.
(Red-Garudasatunews)















