Tawuran Moestopo, DPRD Soroti Lemahnya Pengawasan

oleh -40 Dilihat
oleh
Tawuran Moestopo, DPRD Soroti Lemahnya Pengawasan
Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Insiden tawuran yang pecah di Jalan Moestopo, Minggu (5/4/2026) dini hari, memicu sorotan tajam terhadap efektivitas pengamanan kota. Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Fathoni menilai peristiwa tersebut menjadi indikator adanya celah dalam pengawasan keamanan malam hari, terutama di titik-titik rawan. Ia menegaskan bahwa tanpa penindakan hukum yang kuat, aksi kekerasan jalanan berpotensi terus berulang dan mengancam keselamatan warga.

“Saya berharap ada penindakan hukum yang tegas terhadap para pelaku, sehingga memberikan efek jera,” ujarnya, Senin (6/5/2026).

Menurutnya, karakter Surabaya sebagai kota dengan aktivitas 24 jam menuntut kehadiran aparat yang konsisten. Ia mengingatkan bahwa gangguan keamanan pada malam hingga dini hari dapat berdampak langsung terhadap pekerja sektor informal maupun formal yang beraktivitas di waktu tersebut.

Fenomena tawuran ini juga dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi kota. Fathoni menekankan bahwa rasa aman merupakan faktor krusial dalam menjaga kelangsungan aktivitas ekonomi masyarakat.

Selama ini, lanjutnya, kondisi keamanan dan ketertiban relatif terjaga berkat sinergi antara pemerintah kota, kepolisian, dan TNI. Namun, insiden di Jalan Moestopo disebut sebagai peringatan bahwa sistem pencegahan dini belum sepenuhnya optimal.

Lebih jauh, Fathoni mendorong aparat tidak berhenti pada penerapan pasal umum. Ia meminta penegakan hukum diperluas dengan penggunaan regulasi yang lebih tegas, terutama bagi pelaku yang membawa senjata berbahaya.

“Saya berharap tidak hanya dikenakan Pasal 170 KUHP, pelaku yang membawa senjata berpotensi mematikan bisa dijerat Undang-Undang Darurat,” tegasnya.

Selain penindakan, ia mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk kembali mengintensifkan patroli gabungan di kawasan rawan. Kehadiran aparat secara fisik dinilai penting untuk mencegah potensi konflik sebelum berkembang menjadi aksi kekerasan.

Di sisi lain, ia juga menyoroti peran keluarga dalam pencegahan. Orang tua diminta meningkatkan pengawasan terhadap anak, khususnya remaja, agar tidak terlibat dalam pergaulan yang berisiko.

“Kalau rasa aman terganggu, dampaknya bisa luas hingga ke ekonomi kota,” katanya.

Ia menegaskan, penanganan tawuran tidak cukup hanya dengan reaksi setelah kejadian, tetapi membutuhkan langkah preventif yang konsisten dan terukur dari seluruh pihak terkait.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.