
SURABAYA, Garudasatunews.id|| Bertajub Sinau Bareng “Lawan Bahaya Narkoba Untuk Sematkan Anak Bangsa yang di gagas oleh Kasat Reskoba Pelabuhan Tanjung Perak (KP3) Surabaya bersama Drs. Siswanto. CH, CHt,. CMt, di sambut baik berbagai media yang ikut hadir dalam undangan itu, Sabtu (16/05/2026).
Acara tersebut ikut hadir tamu undangan khusus yakni Dr. Dhimam Abror Ketua Dewan Pakar PWI Pusat.
Setelah acara saresahan selesai Bertajub Sinau Bareng “Lawan Bahaya Narkoba Untuk Sematkan Anak Bangsa, yang ada juga hadir wartawan berbagai media. Awak media mengkonfirmasi perihal marakya Framing fitting terkait Rehab dan tangkap lepas AKP Adik Agus Putrawan. SH,. MH mengatakan, pentingnya sinergi antara wartawan dan pihak terkait agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak hanya cepat, tetapi juga berdasarkan fakta dan pemahaman hukum yang jelas.
“Pemberitaan mengenai kasus narkoba maupun lembaga rehabilitasi dinilai memiliki dampak besar terhadap persepsi masyarakat sehingga harus dilakukan secara hati-hati dan bertanggung jawab,” ucapnya.
Terkait pertemuan di acara ini, lanjut Adik, Pertemuan itu juga menjadi ruang dialog untuk memperkuat pemahaman wartawan mengenai sistem rehabilitasi narkoba, khususnya rehabilitasi sosial berbasis masyarakat yang berbeda dengan rehabilitasi medis.
“Tujuan forum ini agar ada kesamaan persepsi antara jurnalis dan penegak hukum maupun lembaga rehabilitasi. Kami ingin pemberitaan tentang rehabilitasi narkoba berjalan benar, profesional, dan tidak menyesatkan masyarakat,” katanya.
Lain halnya Drs. Siswanto dengan sapaan Prof. Siswanto mengatakan di waktu yang sama, wartawan agar mengedepankan prinsip jurnalistik yang profesional dengan menggunakan sumber informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, jangan gunakan dasar “Framing fitting”.
“Pemberitaan yang dibangun berdasarkan asumsi, rumor, atau penggunaan istilah seperti “katanya” tanpa verifikasi harus yang memadai,” tegasnya.
Terkait lembaga rehabilitasi, lanjut Prof. Siswanto, tidak mempermasalahkan adanya pemberitaan yang menyorot lembaganya. Dorotan media justru membuat masyarakat semakin mengenal keberadaan lembaga rehabilitasi tersebut.
“Namun, saya berharap pemberitaan tetap dilakukan secara objektif dan berimbang agar tidak memunculkan stigma negatif di tengah masyarakat,” lugasnya.
Kami tidak masalah diberitakan, sambung Prof. Siswanto, Justru masyarakat jadi tahu keberadaan lembaga kami, akan tetapi pemberitaan sebaiknya menggunakan narasumber yang jelas dan data yang valid, bukan berdasarkan rumor atau asumsi, apa lagi menggunakan lebel Framing fitting.
Perlu kami tegaskan, Masik sambung Prof. Siswanto, sistem operasional lembaga rehabilitasi sosial berbasis masyarakat yang selama ini berjalan secara mandiri, lembaganya tidak menerima anggaran operasional dari pemerintah sehingga seluruh kegiatan rehabilitasi dilakukan secara swadaya dengan dukungan masyarakat.
“Untuk perlindungan privasi pasien rehabilitasi, pihak lembaga terksit identitas pasien dan lokasi rehabilitasi bersifat rahasia demi menjaga keamanan, kenyamanan, dan proses pemulihan pasien,” jlentrenya.
Karena itu, wartawan maupun pihak luar diingatkan untuk tidak memaksa meminta data pribadi pasien atau lokasi rehabilitasi tertentu. Jika ingin memastikan legalitas atau status resmi tempat rehabilitasi, masyarakat maupun media disarankan untuk melakukan konfirmasi langsung kepada Badan Narkotika Nasional (BNN).
“Identitas pasien rehabilitasi itu rahasia dan harus dilindungi. Tujuannya agar proses pemulihan berjalan baik tanpa tekanan sosial. Jika ingin mengetahui tempat rehabilitasi resmi, silakan konfirmasi langsung ke BNN,” ulas Prof. Siswanto.
Selain memperkuat profesionalisme jurnalistik, kegiatan itu juga diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bahwa rehabilitasi merupakan bagian penting dalam upaya pemulihan pengguna narkoba, bukan sekadar persoalan hukum semata.
Melalui pertemuan tersebut, seluruh pihak berharap tercipta pola pemberitaan yang lebih edukatif, berimbang, dan mendukung upaya rehabilitasi serta perlindungan hak-hak pasien di Indonesia, jangan gunakan rumus-rumus Framing fitting,” tutup Drs. Siswanto. CH, CHt,. CMt dihadapan para awak media.(DIVA)











