Tanggul Jebol Jombang, Respons Darurat Dipertanyakan

oleh -41 Dilihat
oleh
Tanggul Jebol Jombang, Respons Darurat Dipertanyakan
Kerja bakti massal untuk menangani kerusakan tanggul sungai yang disebabkan oleh hujan deras di Desa Pojok Klitih Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang
banner 468x60

Jombang, Garudasatunews.id – Kerusakan tanggul sungai di Desa Pojok Klitih, Kecamatan Plandaan, akibat cuaca ekstrem memicu aksi kerja bakti darurat antara warga dan pemerintah, sekaligus menyoroti kesiapan mitigasi bencana di wilayah tersebut, Rabu (01/04/2026).

Hujan deras dengan intensitas tinggi selama sepekan terakhir menyebabkan lonjakan debit air sungai hingga memicu erosi serius di sejumlah titik tanggul. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan permukiman warga yang berada di sekitar aliran sungai.

Puluhan warga bersama petugas dari pemerintah daerah turun langsung melakukan penanganan darurat. Fokus kegiatan meliputi pemasangan penyangga tanggul, penguatan struktur tanah, serta pembersihan material longsoran untuk menekan potensi kerusakan lanjutan.

Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Wiku Birawa Filipe Dias Quintas, menyebut langkah cepat tersebut merupakan instruksi langsung dari Bupati Warsubi. Namun, kondisi tanggul yang mudah tergerus memunculkan pertanyaan terkait kualitas pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur sebelumnya.

Hasil asesmen sementara menunjukkan kerusakan terjadi di beberapa titik dengan tingkat erosi bervariasi. Penanganan yang dilakukan masih bersifat sementara sambil menunggu perbaikan permanen dari pemerintah daerah.

Situasi ini mengindikasikan bahwa sistem mitigasi bencana belum sepenuhnya optimal, terutama dalam mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Ketergantungan pada respons darurat dinilai berisiko jika tidak diimbangi dengan perencanaan jangka panjang.

Meski aksi kolaboratif mampu menstabilkan kondisi sementara dan meredakan kekhawatiran warga, ancaman banjir susulan tetap membayangi jika perbaikan permanen tidak segera direalisasikan.

Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi tidak hanya bergantung pada respons cepat, tetapi juga pada kualitas infrastruktur dan sistem pencegahan yang berkelanjutan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.