Surabaya Unggul, Tak Ada Kota Bebas Banjir

oleh -107 Dilihat
Surabaya Unggul, Tak Ada Kota Bebas Banjir
Pintu air Gubeng atau disebut juga Bendung Karet Gubeng mulai dibangun pada tahun 1843 dan tuntas pada tahun 1846.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Pengamat sekaligus jurnalis senior Tjuk Suwarono menegaskan bahwa tidak ada kota besar di dunia yang sepenuhnya bebas banjir. Perbedaan utamanya terletak pada kualitas manajemen sungai dan sistem drainase, apakah banjir bisa dikendalikan atau justru menjadi bencana rutin.

Ia mencontohkan Tokyo sebagai rujukan global pengendalian banjir. Kota megapolitan Jepang itu membangun sistem drainase raksasa bawah tanah G-Cans (Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel), terowongan beton raksasa di kedalaman sekitar 25 meter, setara gedung enam lantai.

Proyek yang dibangun sejak 1993 dan rampung 2006 dengan biaya sekitar Rp36 triliun itu berfungsi menahan limpahan air dari sungai-sungai Tokyo. Padahal, menurut The New York Times, Tokyo termasuk kota dengan risiko bencana paling kompleks di dunia: dilalui lima sungai besar, puluhan sungai kecil, rawan badai, gempa, cuaca ekstrem, penurunan tanah, hingga wilayah di bawah permukaan laut.

Selain Tokyo, Tjuk menyebut London dengan Thames Barrier, Rotterdam dengan Maeslantkering, serta Wuhan dengan konsep sponge city yang menyerap air hujan melalui taman dan infrastruktur berpori.
“Kota-kota ini membuktikan bahwa dengan investasi besar dan perencanaan matang, risiko banjir bisa dikendalikan,” tegasnya.

Surabaya Diuntungkan Brantas

Dalam konteks Indonesia, Tjuk menilai Surabaya termasuk kota paling diuntungkan karena ditopang sistem pengelolaan sungai terbaik di Tanah Air, yakni Sungai Brantas.

“Surabaya menikmati anugerah Kali Brantas, urat nadi kemakmuran Jawa Timur yang dikelola dengan manajemen terbaik di Indonesia,” tulisnya.

Karakter Brantas dinilai lebih stabil dibanding sungai besar lain seperti Bengawan Solo. Hulu Brantas dikendalikan Waduk Ir. Soetami, sementara Terowongan Neyama di Tulungagung membuang luapan air ke Laut Selatan Jawa.
“Pembagian beban yang rapi ini membuat Brantas hampir tak pernah menyengsarakan warga di kiri-kanannya,” ungkap Tjuk.

Sebelum memasuki Surabaya, debit Brantas dipecah melalui Kali Porong, lalu mengalir sebagai Kali Surabaya menuju Kali Jagir, salah satu pintu utama pengendali banjir kota. Sepanjang 13 kilometer hingga muara, Kali Jagir dilengkapi pintu air peninggalan Belanda sejak 1856.

Aliran kemudian terbagi ke Sungai Kalimas, tulang punggung sistem pematusan Surabaya yang menampung ratusan saluran drainase kota. Peran Kali Greges dan Kali Branjangan turut memecah aliran banjir ke Teluk Lamong.

Surabaya juga diperkuat infrastruktur modern: busem kembar Morokrembangan, hampir 150 pompa banjir, puluhan pompa bergerak, hingga dukungan mobil pemadam kebakaran untuk menyedot genangan. Pengelolaan sampah dinilai turut menopang, lewat waste to energy di TPA Benowo, ratusan bank sampah, dan budaya memilah sampah dari rumah.

Jakarta dan Tantangan Sungai “Liar”

Tjuk membandingkan kondisi tersebut dengan Jakarta yang dikepung 13 sungai berhulu di Jawa Barat, seperti Ciliwung dan Angke, yang berkarakter lebih “liar”.

“Meski mewarisi sistem drainase Belanda, manajemen Ciliwung belum sebanding dengan Brantas,” tulisnya.

Ia juga menyinggung sejumlah kota lain yang relatif mampu menekan banjir, seperti Banda Aceh, Denpasar, Balikpapan, dan Banyumas. Namun, semua klaim itu menurutnya tetap diuji oleh anomali cuaca ekstrem.

“Faktanya, banjir besar melanda Jakarta, Tangerang, Pekalongan, Tegal, Semarang, dan Demak. Sementara Surabaya tetap bertahan berkat manajemen Brantas, Kalimas, Jagir, dan ratusan pompa kota,” pungkas Tjuk Suwarono.(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.