Strategi Gula Nasional Disorot, Bioetanol Jadi Taruhan

oleh -18 Dilihat
oleh
Strategi Gula Nasional Disorot, Bioetanol Jadi Taruhan
Anggota DPD RI, Lia Istifhama.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Upaya mewujudkan kemandirian gula nasional kembali mengemuka, namun efektivitas strategi yang dijalankan masih menjadi sorotan. Anggota DPD RI Lia Istifhama bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menekankan pentingnya optimalisasi peran petani tebu dan penguatan industri berbasis daerah sebagai fondasi utama ketahanan pangan sekaligus energi nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan di kantor representatif Jalan Jembatan Merah Surabaya, Sabtu (4/4/2026), yang juga membahas berbagai strategi penguatan sektor gula dengan menempatkan Jawa Timur sebagai pusat produksi nasional.

Data produksi menunjukkan Jawa Timur menyumbang lebih dari 50 persen kebutuhan gula nasional. Namun dominasi tersebut dinilai belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani maupun efisiensi industri secara merata.

“Jawa Timur ini bukan sekadar produsen, tetapi lumbung gula nasional. Maka penguatan sektor ini harus menjadi prioritas,” ujar Lia.

Di sisi lain, Direktur Manajemen Risiko SGN, M. Fakhrur Rozi, memaparkan sejumlah langkah intensifikasi yang telah dilakukan, mulai dari penyediaan bibit unggul, penyuluhan petani, hingga dukungan subsidi pupuk. Modernisasi peralatan pengolahan tebu juga disebut terus didorong untuk meningkatkan produktivitas.

Namun demikian, pendekatan teknis tersebut dinilai belum cukup menjawab persoalan struktural di lapangan, termasuk fluktuasi harga, rantai distribusi, serta ketimpangan akses teknologi di tingkat petani kecil.

Lia menegaskan bahwa kemandirian gula tidak bisa hanya diukur dari volume produksi, melainkan juga keberlanjutan sistem pertanian dan perlindungan terhadap petani tebu.

“Interaksi dengan petani menjadi kunci. Kita tidak hanya bicara produksi, tetapi juga kesejahteraan mereka,” tegasnya.

Selain sektor pangan, tebu juga didorong sebagai sumber energi baru terbarukan melalui pengembangan bioetanol. Produk turunan seperti molase dinilai strategis untuk mendukung program campuran bahan bakar E10 pada 2027 hingga E20 pada periode 2028–2030.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan bioetanol masih menghadapi tantangan serius, mulai dari kesiapan infrastruktur hingga kepastian kebijakan nasional yang berkelanjutan.

“Orientasi ke depan bukan hanya gula, tetapi juga energi. Bioetanol menjadi peluang besar,” ungkap Lia.

Dorongan hilirisasi industri tebu juga menjadi perhatian, guna memastikan nilai tambah ekonomi tidak berhenti pada produksi bahan mentah. Tanpa langkah ini, potensi ekonomi tebu dikhawatirkan tidak optimal dalam menopang ekonomi daerah maupun nasional.

Di sisi lain, aspek kesejahteraan pekerja sektor tebu, mulai dari buruh tebang hingga pekerja pabrik, juga disorot. Perlindungan sosial, akses jaminan kesehatan, serta kepastian kerja dinilai masih perlu diperkuat.

Peran perempuan dalam rantai industri gula turut mendapat perhatian, menunjukkan bahwa sektor ini memiliki dimensi pemberdayaan sosial yang signifikan, meski belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan strategis.

Dengan berbagai tantangan tersebut, penguatan sektor gula di Jawa Timur dinilai masih memerlukan pembenahan menyeluruh, tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga tata kelola, distribusi, hingga perlindungan pelaku usaha di tingkat bawah.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.