Siswa TK Dilibatkan Edukasi Mangrove dan Mitigasi

oleh -53 Dilihat
oleh
Siswa TK Dilibatkan Edukasi Mangrove dan Mitigasi
Anak TK Sari Mulya di Taman Edukasi Mangrove Pantai Teban, Pacitan
banner 468x60

PACITAN, Garudasatunews.id – Kegiatan kunjungan puluhan anak TK Sari Mulya ke Taman Edukasi Mangrove Pantai Teban, Rabu (6/5/2026), tidak sekadar wisata edukatif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya sistematis pengenalan mitigasi bencana sejak dini di wilayah rawan tsunami. Program ini digagas oleh Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa di tengah meningkatnya ancaman bencana pesisir selatan Pacitan.

Dalam kunjungan tersebut, anak-anak menerima pemaparan langsung mengenai fungsi ekologis mangrove. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat pengenalan, namun juga menekankan pentingnya perlindungan jangka panjang terhadap ekosistem pesisir yang selama ini kerap terabaikan.

Kegiatan dilanjutkan dengan penelusuran jalur mangrove yang memperlihatkan kondisi riil vegetasi pesisir. Di lokasi itu terlihat bagaimana akar mangrove berfungsi menahan gelombang laut, sebuah fakta lapangan yang menjadi bagian dari edukasi mitigasi berbasis lingkungan.

Sri Wahyuni, guru pendamping, menilai kegiatan tersebut sebagai metode pembelajaran yang lebih efektif dibandingkan teori di ruang kelas. Namun di sisi lain, pendekatan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana kurikulum mitigasi bencana telah terintegrasi secara formal dalam sistem pendidikan dasar.

Taman Edukasi Mangrove yang berada di Dusun Tawang Wetan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, diketahui baru diresmikan pada 29 April 2026. Pembangunannya merupakan bagian dari program Kawasan Tanggap dan Tangguh Bencana (KTTB) yang mengacu pada indikator kesiapsiagaan tsunami.

Abdul Azis dari DMC Dompet Dhuafa mengungkapkan bahwa kawasan Sidomulyo masuk dalam kategori rawan gempa dan tsunami. Oleh karena itu, pembangunan taman mangrove disebut sebagai langkah mitigasi berbasis alam. Namun demikian, efektivitas program ini masih bergantung pada keberlanjutan perawatan serta keterlibatan masyarakat secara aktif.

Pengelolaan taman diserahkan kepada BUMDes Sidomulyo dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Skema ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, namun juga membuka potensi persoalan baru terkait kapasitas pengelolaan dan transparansi manfaat ekonomi.

Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan, Prayitno, menyampaikan apresiasi terhadap program tersebut. Ia menilai taman mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penahan abrasi, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata baru. Meski demikian, pengembangan wisata berbasis mitigasi masih memerlukan kajian mendalam agar tidak bergeser menjadi eksploitasi lingkungan.

Di sisi lain, muncul dampak ekonomi berupa tumbuhnya UMKM lokal dan peningkatan kunjungan wisatawan. Namun, belum ada data terukur terkait kontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan warga, sehingga efektivitasnya sebagai penggerak ekonomi desa masih perlu diawasi.

Program penanaman mangrove yang dilakukan secara intensif diharapkan mampu mengurangi abrasi, memulihkan ekosistem pesisir, serta mendukung keberlangsungan biota laut. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang tetap ditentukan oleh konsistensi kebijakan, pengawasan, dan partisipasi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.