Sidoarjo Percontohan InCircular, Pengelolaan Sampah Jadi Sorotan

oleh -26 Dilihat
oleh
Sidoarjo Percontohan InCircular, Pengelolaan Sampah Jadi Sorotan
Kabupaten Sidoarjo terpilih sebagai salah satu dari lima daerah percontohan Proyek InCircular di Jawa Timur. Proyek InCircular diarahkan untuk memperkuat regulasi, tata kelola, kolaborasi, dan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
banner 468x60

SIDOARJO, Garudasatunews.id – Kabupaten Sidoarjo ditetapkan sebagai salah satu daerah percontohan Proyek InCircular di Jawa Timur. Program yang berfokus pada pengelolaan sampah kemasan dan residu tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi sirkular sekaligus menjawab tantangan pengelolaan sampah yang masih menjadi persoalan di berbagai daerah.

Penetapan itu diumumkan dalam peluncuran Kabupaten/Kota Percontohan Proyek InCircular bertajuk “Dari Daerah, Menuju Masa Depan Ekonomi Sirkular Indonesia” yang digelar di Surabaya, Selasa (15/9/2026). Selain Sidoarjo, empat daerah lain yang masuk dalam proyek percontohan adalah Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Probolinggo.

Proyek InCircular merupakan bagian dari implementasi Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045. Program ini diarahkan untuk memperkuat regulasi, tata kelola, kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta sistem pengelolaan sampah di tingkat kabupaten dan kota.

Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan bahwa penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung program tersebut. Menurutnya, pemetaan fasilitas pengelolaan sampah seperti TPS 3R dan bank sampah diperlukan agar strategi pengurangan sampah dapat berjalan lebih efektif dan terukur.

“Pengelolaan sampah plastik ini penting. Mulai dari tingkat bank sampah sampai tingkat TPS 3R harus benar-benar kita perkuat dan memiliki komitmen yang besar,” ujar Subandi.

Dari sudut pandang tata kelola lingkungan, penunjukan Sidoarjo sebagai daerah percontohan menjadi momentum untuk menguji efektivitas sistem pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Pendekatan ekonomi sirkular menempatkan sampah bukan sekadar limbah yang dibuang, melainkan material yang masih memiliki nilai ekonomi melalui proses penggunaan kembali, daur ulang, maupun pemanfaatan lanjutan.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Jawa Timur. Berdasarkan data yang disampaikan, timbulan sampah di provinsi ini mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun, sementara yang terkelola secara optimal baru sekitar 25 persen.

Menurut Emil, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur pengolahan sampah, tetapi juga menyangkut kapasitas kelembagaan, konsistensi pemilahan sampah dari sumber, dukungan pembiayaan, serta keterlibatan masyarakat dan dunia usaha.

Dari perspektif kebijakan publik, keberhasilan proyek ini akan sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas lingkungan, hingga masyarakat di tingkat desa dinilai memiliki peran penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Proyek InCircular sendiri merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas dengan Pemerintah Republik Federal Jerman yang diimplementasikan bersama GIZ Indonesia & ASEAN. Program ini diharapkan menghasilkan model pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular yang dapat direplikasi di daerah lain apabila terbukti efektif.

Dengan status sebagai daerah percontohan, Sidoarjo kini menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa pengelolaan sampah kemasan dan residu dapat dilakukan secara lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.