Serapan Tembakau 2026 Pamekasan Tembus 36 Ribu Ton, Pabrikan Nasional Jadi Penyerap Terbesar

oleh -30 Dilihat
oleh
banner 468x60

IMG-20260929-WA0016

PAMEKASAN, Garudasatunews.id — Serapan tembakau di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mencatatkan kinerja positif pada musim panen 2026. Hingga 21 September 2026, akumulasi serapan tembakau dari para petani telah menembus angka 36.836 ton (36.836.806 kg), atau setara dengan 913.300 bal.

​Capaian ini melampaui target rencana pembelian awal musim tembakau 2026 yang disepakati sebesar 24,85 juta kilogram.

​Kepala Bidang Pembinaan dan Perlindungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan, Raihan Akbar, mengungkapkan bahwa akumulasi tersebut dihimpun dari tiga jalur utama, yaitu pabrikan rokok nasional, perusahaan rokok lokal, dan pembeli perorangan.
​“Realisasi serapan tembakau per 21 September sudah menyentuh 36.836 ton,” ujar Raihan pada Senin (28/9/2026).

​Pabrikan rokok nasional menjadi penyerap terbesar dengan volume mencapai 28,97 juta kilogram (722.215 bal). Angka tersebut setara dengan 188,74 persen dari target semula yang dipatok sebesar 15,35 juta kilogram.

​Sementara itu, pabrikan rokok lokal menyerap sebanyak 1,69 juta kilogram (42.269 bal) atau 89,39 persen dari target 1,9 juta kilogram. Adapun transaksi dari pembeli perorangan tercatat mencapai 6,16 juta kilogram (148.816 bal) atau sekitar 81,14 persen dari rencana pembelian 7,6 juta kilogram.

​Tren Harga dan Kualitas Daun
Mengenai peta harga, Raihan menjelaskan tingkat harga musim ini relatif stabil dibandingkan tahun 2025, yakni bergerak di kisaran Rp50.000 hingga Rp80.000 per kilogram.

​Namun, peningkatan kualitas hasil panen tahun ini mendorong dominasi transaksi pada kelompok harga menengah hingga tinggi.
​“Pola harga tahun 2025 dan 2026 tidak jauh berbeda. Meski demikian, mayoritas transaksi tahun ini berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp80.000 per kilogram karena kualitas yang membaik,” jelasnya.

​Ia tidak menampik bahwa harga sempat berfluktuasi dan melemah pada awal musim panen. Hal itu dipicu oleh tindakan sebagian petani yang memetik daun tembakau sebelum matang sempurna, serta kualitas daun bagian bawah (sot-asot) yang secara ilmiah memang cenderung lebih rendah. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.