Sarung Mangga Perkuat Tradisi Pesantren di Muktamar NU

oleh -29 Dilihat
oleh
Sarung Mangga Perkuat Tradisi Pesantren di Muktamar NU
Santri Tambakberas Jombang melintas di gapura Muktamar ke-35 NU saat pulang sekolah, Rabu (29/7/2026).
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Sarung Mangga menjadi bagian dari pesan budaya dan tradisi pesantren dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama untuk memperkuat arah perjuangan organisasi sekaligus merawat tradisi yang telah melekat dalam kehidupan pesantren.

Penggunaan sarung dalam lingkungan pesantren bukan sekadar persoalan busana. Sarung telah lama menjadi salah satu simbol identitas santri dan kultur pesantren. Karena itu, kehadiran Sarung Mangga dalam konteks Muktamar NU turut memperkuat pesan bahwa tradisi dan budaya lokal masih memiliki ruang dalam agenda organisasi keagamaan berskala nasional.

Muktamar yang digelar di kawasan Tambakberas juga memiliki nilai historis tersendiri. Panitia menyebut penyelenggaraan di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum memiliki hubungan erat dengan sejarah para pendiri NU. Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyebut pelaksanaan Muktamar di lokasi tersebut sebagai momentum untuk kembali ke lingkungan para muassis NU.

Dari perspektif budaya, sarung menjadi simbol yang sederhana tetapi kuat. Pakaian yang identik dengan santri itu memperlihatkan bagaimana tradisi pesantren dapat hadir berdampingan dengan kebutuhan penyelenggaraan organisasi modern.

Pesan budaya tersebut menjadi semakin relevan ketika Muktamar tidak hanya dipandang sebagai forum memilih kepengurusan dan merumuskan kebijakan organisasi, tetapi juga sebagai ruang untuk meneguhkan identitas Nahdlatul Ulama. Situs resmi panitia menyebut Muktamar ke-35 sebagai forum musyawarah tertinggi NU yang mempertemukan utusan dari berbagai daerah untuk merumuskan arah perjuangan lima tahun mendatang.

Di sisi lain, kesiapan teknis Muktamar juga terus dikebut. Panitia menyiapkan akomodasi bagi sekitar 3.370 peserta dengan memanfaatkan sejumlah fasilitas pendidikan di lingkungan pesantren dan kampus. Sebanyak 3.000 kasur baru juga telah didistribusikan untuk menunjang kebutuhan peserta.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan Muktamar menggabungkan dua sisi sekaligus: kebutuhan teknis sebuah agenda nasional dengan karakter khas pesantren yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan.

Pada akhirnya, kehadiran Sarung Mangga dalam narasi Muktamar ke-35 NU tidak berhenti pada persoalan produk atau pakaian. Lebih jauh, sarung menjadi bagian dari simbol budaya yang mengingatkan bahwa modernisasi organisasi tidak harus menghilangkan akar tradisi pesantren. Muktamar ke-35 NU di Tambakberas menjadi ruang pertemuan antara agenda masa depan organisasi dan warisan budaya yang telah mengakar di kalangan santri.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.