Sarmuji: Pemikiran Mbah Wahab Masih Relevan Hadapi Zaman

oleh -15 Dilihat
oleh
Sarmuji Pemikiran Mbah Wahab Masih Relevan Hadapi Zaman
Sekjen Golkar Sarmuji menunjukkan buku Penyirep Gemuruh karya KH Abdul Wahab Chasbullah, Sabtu malam (29/3/2026).
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji menilai pemikiran KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab yang tertuang dalam kitab Penyirep Gemuruh masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Sarmuji saat menjadi pembicara dalam bedah buku Penyirep Gemuruh di Masjid Gedang Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Sabtu malam (29/8/2026). Kegiatan yang digelar Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyemarakkan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut Sarmuji, salah satu relevansi pemikiran Mbah Wahab terlihat dari cara tokoh pendiri NU tersebut menyelesaikan konflik terkait perluasan Masjid Peneleh di Surabaya. Penyelesaian persoalan dilakukan dengan mengedepankan sikap moderat, keseimbangan, toleransi, keadilan, serta musyawarah.

“Karakter NU yang selama ini kita pahami sebagai tawassuth, tawazun, tasamuh, i’tidal. Yaitu moderat, toleran, lalu tawazun itu seimbang, dan i’tidal yaitu adil,” kata Sarmuji.

Ia menilai keteladanan Mbah Wahab tidak hanya terletak pada kemampuan memahami persoalan dari perspektif fikih. Dalam mencari jalan keluar, Mbah Wahab juga disebut terbuka terhadap pandangan pihak lain yang memiliki keahlian berbeda.

Bagi Sarmuji, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak harus ditempuh dengan memperlebar perbedaan. Dialog, keseimbangan dan pencarian titik temu justru dapat menjadi jalan untuk meredam ketegangan sosial.

Pandangan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam bedah buku Penyirep Gemuruh. Kitab tersebut mengulas kiprah KH Abdul Wahab Hasbullah dalam menghadapi persoalan sosial, termasuk konflik terkait perluasan Masjid Peneleh Surabaya.

Penerjemah kitab, Fathul H Panatapraja, menjelaskan penyelesaian konflik yang dilakukan Mbah Wahab tidak semata-mata mengandalkan dialog. Pendekatan hukum fikih juga digunakan untuk mencari solusi berdasarkan kondisi persoalan yang dihadapi.

“Proses penyelesaian konflik yang diselesaikan Mbah Wahab tidak hanya lewat pendekatan dialog, tapi pencarian solusi dari sudut pandang hukum fikih,” ujar Fathul.

Sementara itu, Ayung Notonegoro dari Komunitas Pegon Banyuwangi mengungkap perjalanan ditemukannya naskah kuno Penyirep Gemuruh. Naskah tersebut ditemukan ketika ia melakukan riset sejarah NU di Banyuwangi.

Ayung menuturkan, naskah itu ditemukan di antara koleksi kitab tua yang tersimpan dalam lemari milik Kiai Saleh di Pesantren Lateng, Banyuwangi. Lemari tersebut disebut telah terkunci selama belasan tahun.

Setelah melalui proses membangun kepercayaan dengan keluarga ahli waris, lemari akhirnya dapat dibuka. Dari koleksi kitab tua tersebut ditemukan sejumlah naskah bernilai sejarah, termasuk Penyirep Gemuruh karya KH Wahab Hasbullah.

Menurut Ayung, naskah serupa juga pernah berada di kantor PCNU Surabaya di Jalan Bubutan. Komunitas Pegon kemudian turut mempublikasikan keberadaan kitab tersebut sehingga mulai dikenal lebih luas.

Bedah buku ini pada akhirnya tidak sekadar membicarakan warisan intelektual Mbah Wahab. Forum tersebut juga menempatkan pemikiran tentang moderasi, musyawarah dan penyelesaian konflik sebagai gagasan yang dinilai masih dibutuhkan dalam menghadapi berbagai perbedaan di masyarakat.

Dalam konteks itu, pesan utama Penyirep Gemuruh yang diangkat Sarmuji adalah bagaimana konflik tidak semakin membesar karena perbedaan, tetapi dapat diredam melalui dialog, keseimbangan, keadilan dan pencarian solusi bersama.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.