SURABAYA, Garudasatunews.id – Lonjakan sampah musiman usai perayaan hari raya kembali menjadi persoalan lingkungan yang luput dari perhatian serius, salah satunya berasal dari limbah amplop angpao yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengelolaan.
Fenomena ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran pengurangan sampah berbasis rumah tangga, meski material kertas seperti amplop memiliki potensi besar untuk didaur ulang menjadi barang bernilai guna.
Sejumlah upaya sederhana sebenarnya dapat dilakukan untuk menekan volume limbah tersebut. Salah satunya dengan mengolah amplop bekas menjadi pembatas buku (corner bookmark) melalui pemotongan sudut amplop yang masih tertutup sehingga membentuk kantong segitiga fungsional.
Selain itu, nilai estetika amplop dengan motif khas Lebaran dapat dimanfaatkan sebagai label kado (gift tag). Dengan pemotongan pola tertentu dan penambahan tali, limbah kertas tersebut dapat bertransformasi menjadi pelengkap hantaran yang memiliki nilai tambah tanpa biaya besar.
Pemanfaatan lain yang tidak kalah efektif adalah menjadikannya dekorasi interior berupa mini garland. Teknik ini memanfaatkan potongan amplop berbentuk geometris yang dirangkai menjadi hiasan gantung, menghadirkan fungsi dekoratif sekaligus mengurangi sampah.
Namun di balik solusi kreatif tersebut, persoalan utama tetap terletak pada minimnya sistem pengelolaan sampah terintegrasi serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam memilah dan mendaur ulang limbah sejak dari sumbernya.
Tanpa intervensi kebijakan dan edukasi berkelanjutan, sampah musiman seperti amplop Lebaran akan terus menjadi beban lingkungan yang berulang setiap tahun.
Upaya daur ulang dinilai bukan sekadar aktivitas kerajinan, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan menekan krisis sampah yang kian mengkhawatirkan.
(Red-Garudasatunews)
















