YOGYAKARTA, Garudasatunews.id – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp17.000 per dolar AS memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas harga pangan nasional, dengan potensi lonjakan harga akibat meningkatnya biaya impor komoditas strategis.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan pangan seperti kedelai, gandum, dan bawang putih menjadi titik rawan ketika nilai tukar bergejolak. Kenaikan kurs dolar secara langsung mendorong biaya impor dan berimbas pada harga jual di tingkat konsumen.
Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, mengungkapkan dampak pelemahan rupiah terhadap harga pangan tidak merata, bergantung pada ketersediaan pasokan domestik.
Menurutnya, komoditas dengan stok terbatas lebih rentan mengalami lonjakan harga, dengan estimasi kenaikan berkisar antara 2 hingga 8 persen tergantung jenis produk.
Komoditas seperti daging, telur, dan susu dinilai paling sensitif terhadap fluktuasi kurs karena sulit disubstitusi dan memiliki ketergantungan tinggi pada rantai pasok tertentu.
Di sisi lain, tekanan tidak hanya terjadi pada harga jual, tetapi juga pada biaya produksi. Kenaikan harga input seperti pakan dan pupuk—yang sebagian terhubung dengan pasar global—turut mendorong biaya produksi sektor pertanian dan peternakan.
Struktur pangan nasional yang masih bergantung pada impor memperbesar kerentanan terhadap dinamika global. Semakin besar porsi impor suatu komoditas, semakin tinggi pula risiko lonjakan harga saat nilai tukar melemah.
Dalam jangka pendek, penguatan kontrol harga dan akurasi data pangan dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pasokan. Sementara itu, dalam jangka panjang, peningkatan produksi dalam negeri menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor.
Upaya tersebut mencakup dukungan terhadap petani melalui akses pembiayaan, subsidi input, serta penguatan sistem asuransi pertanian guna menjaga keberlanjutan produksi.
Kondisi ini menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar isu moneter, tetapi berpotensi langsung menekan daya beli masyarakat melalui kenaikan harga pangan, sehingga membutuhkan respons kebijakan yang terukur dan berkelanjutan.
(Red-Garudasatunews)















