Romantisme Sejarah vs Realitas Arsip: Catatan Kritis dari Kebuntuan Diskusi Pasar Buduran 1926

oleh -63 Dilihat
oleh
banner 468x60

SIDOARJO, garudasatunews.id – Minggu (3/5/2026). Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern Sidoarjo, Pasar Buduran tetap berdiri tegak sebagai urat nadi perekonomian warga yang tak pernah mati. Ribuan transaksi terjadi setiap harinya di antara lapak-lapak pedagang yang menawarkan segala kebutuhan pokok. Di balik riuhnya tawar-menawar yang menggema dari subuh hingga senja, pasar ini menyimpan jejak masa lalu yang mengakar kuat. Tempat ini bukan sekadar pusat jual beli, melainkan monumen sejarah yang menyaksikan jatuh bangunnya kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.

​Berdasarkan catatan sejarah lokal, tonggak awal berdirinya Pasar Buduran diyakini terjadi pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1926. Tahun tersebut menjadi titik nol bagi perputaran roda ekonomi masyarakat di masa lampau. Di tengah bayang-bayang kekuasaan kolonial, pasar ini lahir sebagai ruang interaksi sosial sekaligus ruang pertahanan ekonomi rakyat pribumi yang mencoba bertahan hidup di tanahnya sendiri.

 

​Fakta sejarah ini kembali menjadi perbincangan hangat dalam sebuah acara cangkrukan bertajuk “Mengenal Buduran Market 1926” yang digelar tepat di area pasar pada hari Minggu ini.

Di tengah suasana santai khas cangkrukan, pewarta turut hadir membaur bersama masyarakat dan para pegiat budaya. Tampil sebagai narasumber utama dalam diskusi tersebut adalah Dr. Sudi, Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno, yang hadir dengan ekspektasi mampu mengupas tuntas cikal bakal pasar bersejarah ini secara komprehensif.

 

​Pada awal diskusi yang mengalir akrab, Dr. Sudi memaparkan konteks sosial masyarakat Sidoarjo di era 1920-an. Ia menegaskan kembali bahwa tahun 1926 memang menjadi pijakan historis mulai beroperasinya Pasar Buduran. Berbagai kepingan informasi terkait tata letak awal, dinamika warga, hingga geliat perdagangan masyarakat pribumi diulas, seolah memberikan gambaran bahwa sang narasumber menguasai lanskap sejarah lokal secara utuh.

 

​Namun, narasi sejarah yang dibangun itu mendadak teruji ketika pewarta melontarkan sebuah pertanyaan mendasar yang menuntut kedalaman literatur sejarah dan kearsipan: “Siapakah sosok Kepala Desa atau Lurah Buduran yang menjabat pada tahun 1926 saat pasar ini mulai didirikan?” Pertanyaan ini dilontarkan murni untuk menggali tahu siapa tokoh lokal sesungguhnya di balik kebijakan awal dan perizinan pasar saat itu.

 

​Alih-alih mendapatkan penjabaran historis yang mencerahkan, jawaban dari sang narasumber justru memunculkan ironi yang menggelitik. Dengan lugas, Dr. Sudi menjawab singkat, “Saya bukan orang Pemda.” Jawaban ini sangat disayangkan karena meluncur dari seorang yang menyandang status Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno. Pernyataan tersebut seolah menjadi tameng yang mengonfirmasi kurangnya literasi dan dangkalnya riset sejarah administratif yang seharusnya menjadi fondasi dasar bagi seorang pegiat sejarah lokal tingkat komunitas.

 

​Sikap melempar kebuntuan informasi kepada instansi pemerintah daerah ini tentu menjadi sorotan kritis. Sebagai tokoh yang menaungi pelestarian masa kuno Sidoarjo, seharusnya pemahaman sejarah tidak hanya sebatas kulit luar, asumsi, atau narasi umum yang sering diulang-ulang. Kebuntuan jawaban ini mengindikasikan bahwa literasi sejarah yang dipegang masih sangat parsial dan miskin penelusuran terhadap arsip birokrasi pemerintahan desa yang sejatinya adalah bukti otentik dari sebuah peristiwa masa lampau.

 

​Padahal, mengetahui sosok Kades atau Lurah Buduran pada masa itu memiliki signifikansi historis yang tak terpisahkan dari narasi berdirinya pasar. Sosok tersebut pastilah pemangku kebijakan tingkat lokal yang memiliki peran krusial dan keberanian dalam menyetujui ketersediaan lahan, mengatur tata tertib, serta mengkoordinasi masyarakat di era penjajahan Belanda. Tanpa menyebutkan satu nama pun, klaim pemahaman sejarah kelahiran Pasar Buduran terasa hampa karena sang tokoh protagonis utamanya justru lenyap dari ingatan sejarah sang pemateri.

 

​Hingga acara cangkrukan “Mengenal Buduran Market 1926” itu berakhir, identitas pemimpin Desa Buduran di tahun 1926 itu tetap menjadi teka-teki yang tak terjawab. Momen ini menyisakan catatan tajam bahwa semangat pelestarian sejarah harus selalu diimbangi dengan kedalaman literasi, penggalian data, dan riset kearsipan yang kuat, bukan sekadar ajang kumpul-kumpul semata. Pasar Buduran terus berdenyut seiring putaran waktu, menjadi saksi bisu yang masih menunggu penggalian sejarah secara utuh untuk mengungkap siapa sosok pemimpin di balik pembangunannya. ( Faisal dan tim )

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.