Rocky–Risma Soroti Peran Mangrove Surabaya

oleh -106 Dilihat
Rocky–Risma Soroti Peran Mangrove Surabaya
Pengamat Politik, Rocky Gerung, bersama Tri Rismaharini mengunjungi alam wisata Kebun Raya Mangrove yang terletak di kawasan Gunung Anyar dan Medokan Indah, Surabaya, pada Sabtu (17/1/2026).
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Pengamat politik Rocky Gerung bersama Tri Rismaharini mengunjungi kawasan wisata alam Kebun Raya Mangrove Surabaya, Sabtu (17/1/2026). Kunjungan ini menyoroti relasi manusia dan alam melalui kebijakan lingkungan yang dirintis Risma saat menjabat Wali Kota Surabaya.

Kebun Raya Mangrove yang berada di kawasan Gunung Anyar dan Medokan Indah itu merupakan hasil kebijakan Risma sejak 2018. Lahan seluas 31,5 hektare yang sebelumnya tandus kini berubah menjadi kawasan hijau dengan ratusan ribu tanaman bakau serta koleksi 59 jenis mangrove.

Risma menegaskan, kawasan mangrove memiliki fungsi strategis sebagai benteng alami Kota Surabaya dari ancaman bencana yang datang dari laut.

“Ini kawasan penyangga, benteng pertahanan Surabaya. Semua bencana datang dari laut dan luar, maka mangrove ini adalah natural sea wall kota,” ujar Risma.

Mantan Menteri Sosial RI itu menambahkan, keberadaan mangrove berperan vital dalam menjaga keseimbangan hidup manusia. Selain melindungi pesisir, mangrove menjadi penopang ketahanan pangan dan ruang hidup biota laut.

“Untuk pangan, terutama protein, ikan bisa terjaga kualitasnya. Akar mangrove juga menyaring limbah, termasuk limbah B3 yang bisa merusak kesehatan manusia,” jelasnya.

Rocky Gerung mengapresiasi langkah Risma yang dinilainya visioner dan melampaui zamannya. Ia menilai kebijakan tersebut lahir dari kepemimpinan yang berangkat dari nilai, intuisi, dan kesadaran ekologis.

“Dengan satu ide, Ibu Risma menciptakan tempat penyimpan karbon, penghasil oksigen. Ini melampaui imajinasi kebijakan pemerintah kebanyakan,” kata Rocky.

Menurut Rocky, kepemimpinan Risma telah mempraktikkan etika lingkungan jauh sebelum isu tersebut ramai dibicarakan. Ia menilai, upaya menjaga alam harus dimulai dari niat untuk menghidupkan budaya, bukan sekadar wacana.

“Sekarang orang bicara environmental ethics, tapi kalau tidak dimulai dari niat menghidupkan budaya, semua ilmu dan gelar tidak ada artinya,” pungkas Rocky.(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.