Roasting Kopi Lereng Ijen-Raung Diserbu Warga

oleh -48 Dilihat
oleh
Roasting Kopi Lereng Ijen-Raung Diserbu Warga
Roasting Kopi Lereng Ijen-Raung Diserbu Warga
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Usaha jasa roasting dan penggilingan kopi di lereng Pegunungan Ijen-Raung, Kabupaten Bondowoso, mulai menunjukkan geliat ekonomi baru di tengah meningkatnya konsumsi kopi rumahan masyarakat pedesaan.

Fenomena itu terlihat di Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin, saat warga rela menempuh perjalanan lintas desa demi menggiling kopi hasil kebun sendiri di Toko Al Farizi.

Siang itu, Kusmiati datang menggunakan sepeda motor bersama anaknya sambil membawa delapan kilogram biji kopi kering atau green bean untuk disangrai dan digiling menjadi kopi bubuk siap konsumsi.

Warga Dusun Plampang, Desa Rejoagung itu mengaku lebih memilih menggunakan jasa roasting dibanding membeli kopi kemasan karena dinilai lebih hemat untuk kebutuhan sehari-hari.

“Karena saya punya kebun kopi sendiri. Ke sini hanya tinggal sangrai dan giling,” ujarnya.

Untuk proses roasting dan penggilingan, Kusmiati mengeluarkan biaya Rp10 ribu per kilogram. Dari delapan kilogram kopi yang dibawanya, ia menyiapkan Rp80 ribu untuk sekali proses produksi.

Menurutnya, hasil kopi bubuk tersebut biasanya mampu mencukupi kebutuhan konsumsi selama lebih dari satu bulan karena digunakan untuk suguhan tamu dan pekerja di lingkungan usahanya.

“Karena yang diopeni banyak. Lebih hemat kalau pakai kopi sendiri dibanding beli kopi kemasan,” katanya.

Pemilik Toko Al Farizi, Setyowati, mengungkapkan usaha roasting yang baru berjalan delapan bulan itu kini mampu mengolah antara 20 hingga 50 kilogram kopi per hari.

Selain menerima jasa roasting dan penggilingan, toko tersebut juga menyediakan roasted bean bagi pelanggan yang tidak memiliki stok green bean sendiri.

“Selain buka jasa roasting dan giling, kami juga menyediakan roasted bean untuk yang tidak bawa green bean. Tinggal duduk, pulang bawa kopi bubuk,” tuturnya.

Jenis kopi yang dijual bervariasi, mulai robusta dengan harga Rp100 ribu hingga Rp165 ribu per kilogram, sampai arabika dengan kisaran harga Rp200 ribu hingga Rp350 ribu per kilogram.

Meski mengakui usaha kopi memiliki pasang surut pasar, Setyowati menyebut omzet usahanya kini mampu melampaui nilai Upah Minimum Regional (UMR) Bondowoso.

“Per bulan minimal dapat Rp5 juta. Untuk margin keuntungan, rahasia dapur,” ujarnya sambil tersenyum.

Meningkatnya permintaan jasa roasting di kawasan lereng Ijen-Raung dinilai menjadi sinyal tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pengolahan kopi mandiri sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis hasil perkebunan rakyat.

(Red-Garudasatunews) 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.