
MAKKAH, Garudasatunews.id – Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, merombak skema layanan kesehatan haji 2026 dengan menyiapkan mobile clinic di kawasan Armuzna serta memperkuat jaringan klinik satelit di tiap sektor, langkah yang dinilai krusial di tengah tingginya risiko kesehatan jemaah Indonesia.
Kebijakan ini diumumkan saat peninjauan kesiapan Saudi German Hospital yang akan menjadi mitra penanganan kasus medis rujukan, termasuk layanan spesialis bagi jemaah selama berada di Tanah Suci.
Perubahan model layanan dilakukan menyusul tingginya kerentanan kesehatan jemaah, dengan sekitar 25 persen merupakan lansia dan ratusan ribu lainnya masuk kategori risiko tinggi, kondisi yang selama ini menjadi titik lemah dalam penanganan medis haji.
Pemerintah menilai sistem lama belum mampu menjangkau titik-titik kritis ibadah secara cepat, terutama di fase puncak yang terpusat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang dikenal dengan sebutan Armuzna.
“Model pelayanan kesehatan harus berubah agar respons medis lebih cepat dan menjangkau langsung jemaah,” tegas Dahnil.
Mobile clinic akan difungsikan sebagai unit pertolongan pertama bergerak di tengah kepadatan ekstrem, dengan target menekan potensi fatalitas yang kerap terjadi akibat keterlambatan penanganan.
Selain di Arab Saudi, pembenahan juga dilakukan di dalam negeri melalui rencana pembangunan klinik permanen di setiap asrama haji. Fasilitas ini akan beroperasi sepanjang tahun dan terintegrasi dengan layanan umrah, sehingga rekam medis jemaah dapat dipantau sejak sebelum keberangkatan.
Langkah ini juga akan disinergikan dengan sistem layanan Klinik Kesehatan Haji Indonesia untuk menciptakan pengawasan kesehatan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Transformasi layanan kesehatan ini menjadi respons atas evaluasi berulang terkait tingginya angka risiko kesehatan jemaah, sekaligus upaya menutup celah layanan pada fase paling krusial dalam rangkaian ibadah haji.
(Red-Garudasatunews)














