MOJOKERTO, Garudasatunews.id — Suasana Ramadan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto di Jalan Taman Siswa, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, tidak hanya diwarnai aktivitas ibadah rutin. Di balik tembok penjara, serangkaian kegiatan mulai dari pesantren Ramadan, pengajian kitab kuning hingga bazar makanan digelar untuk warga binaan dari pagi hingga malam hari, di bawah pengawasan petugas.(06/03/26)
Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto, Rudi Kristiawan, mengungkapkan seluruh kegiatan telah dijadwalkan secara terstruktur selama bulan suci. Program tersebut, menurutnya, dirancang untuk memastikan warga binaan tetap menjalankan aktivitas pembinaan spiritual sekaligus menjaga stabilitas keamanan di dalam lapas.
Setiap hari, kegiatan dimulai dengan salat subuh berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan pesantren kilat atau pesantren Ramadan. Program ini berlangsung setiap pagi pukul 08.00 hingga 11.00 WIB diikuti warga binaan secara bergiliran sesuai jadwal kamar hunian. Materi keagamaan yang diberikan mencakup pengajian kitab kuning yang dipusatkan di Masjid At-Taubah di dalam kompleks lapas.
Memasuki siang hingga sore, aktivitas ibadah kembali berlanjut dengan salat dhuhur dan ashar berjamaah. Namun di sela-sela agenda keagamaan tersebut, lapas juga membuka ruang kegiatan yang lebih santai bagi warga binaan.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Bazar Ramadan yang digelar di lapangan blok narapidana dan tahanan. Kegiatan ini berlangsung bergiliran setiap dua hari antara blok tahanan dan blok narapidana, dengan konsep serupa bazar takjil yang biasa ditemui di masyarakat luar.
Dalam bazar tersebut, warga binaan menjajakan berbagai menu seperti gorengan, aneka minuman es, bubur hingga kolak. Aktivitas ngabuburit ini juga dilengkapi hiburan musik serta kegiatan olahraga bersama, sehingga menciptakan suasana yang disebut pihak lapas sebagai upaya menghadirkan atmosfer Ramadan seperti di lingkungan masyarakat.
Menurut Rudi, bazar tersebut bukan sekadar hiburan. Program ini diklaim sebagai bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan, karena mereka dilibatkan langsung dalam proses memasak, menyiapkan dagangan hingga praktik berdagang.
Pihak lapas menilai pengalaman tersebut penting sebagai bekal ketika warga binaan kembali ke masyarakat. Melalui kegiatan ekonomi sederhana di dalam lapas, mereka diharapkan memiliki keterampilan dasar serta pola pikir untuk mencari nafkah secara mandiri setelah bebas.
Di sisi lain, program Ramadan ini juga dipandang sebagai strategi untuk menjaga stabilitas psikologis warga binaan. Aktivitas yang padat dan terarah diyakini dapat menekan potensi gangguan keamanan di dalam lapas, terutama ketika warga binaan merasa terhibur dan memiliki ruang kegiatan positif.
Rudi menegaskan, rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi program Direktorat Jenderal Pemasyarakatan yang menekankan pembinaan spiritual, kemandirian ekonomi, serta pelayanan bagi warga binaan selama menjalani masa hukuman.
(Red-Garudasatunews)















