Radio Legendaris Kediri Tutup, Suara Mbok Yah Tinggal Kenangan

oleh -32 Dilihat
oleh
Radio Legendaris Kediri Tutup, Suara Mbok Yah Tinggal Kenangan
Gita Nurani Dewi, penyiar RWS yang dikenal dengan nama Dewi Cahya atau akrab disapa Mbok Yah pada masanya
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Siaran Radio Wijang Songko (RWS) FM resmi berhenti, menandai berakhirnya salah satu media penyiaran tertua di Kediri yang telah bertahan selama hampir 58 tahun. Penutupan ini tidak hanya memutus aliran informasi, tetapi juga meninggalkan jejak emosional bagi para penyiar dan pendengarnya.

Bagi kalangan internal, RWS bukan sekadar media hiburan. Radio ini menjadi ruang pembentukan sumber daya manusia di bidang penyiaran, bahkan melahirkan sejumlah praktisi media yang kini berkiprah di berbagai sektor. Salah satu alumninya, Gita Nurani Dewi atau yang dikenal dengan karakter “Mbok Yah”, mengungkapkan RWS adalah tempat belajar yang membentuk profesionalisme lintas bidang.

Ia menuturkan, peran penyiar di RWS tidak berhenti pada siaran udara. Tugas meluas hingga pengelolaan event, pemasaran, hingga manajemen program. “Kami dituntut menguasai banyak hal, bukan hanya bicara di mikrofon,” ujarnya.

RWS dikenal dengan fleksibilitas konten yang melintasi berbagai segmen, mulai dari berita, keagamaan, hingga musik lintas genre—dari campursari, dangdut, hingga K-Pop. Kemampuan adaptasi inilah yang membuat radio tersebut mampu bertahan di tengah perubahan tren media selama puluhan tahun.

Namun di balik kekuatan itu, penutupan RWS memunculkan pertanyaan soal daya tahan industri radio konvensional di tengah tekanan digitalisasi. Platform berbasis internet dinilai semakin menggerus eksistensi radio lokal yang bergantung pada pola siaran tradisional.

Dewi, yang bergabung sejak 2009, menjadi salah satu saksi perjalanan RWS dari masa keemasan hingga penutupan. Ia dikenal melalui berbagai karakter suara, termasuk “Mbok Yah” dan “Menuk”, yang sempat menjadi ikon di kalangan pendengar setia.

Selama hampir tujuh tahun berkarier, ia mengisi program-program utama, khususnya segmen campursari pada jam-jam strategis. Peran tersebut memperkuat kedekatan RWS dengan budaya lokal masyarakat Kediri.

Kabar berhentinya siaran RWS diakuinya datang secara tiba-tiba dan memicu keterkejutan di kalangan alumni. Radio yang telah mengudara sejak sebelum generasinya lahir itu kini harus berhenti di tengah perubahan lanskap media.

Respons serupa juga muncul dari pendengar setia yang mempertanyakan keberlanjutan radio tersebut. Ikatan emosional yang terbangun selama puluhan tahun menjadi faktor yang membuat penutupan ini terasa sebagai kehilangan kolektif.

Meski demikian, harapan agar RWS kembali mengudara masih terbuka. Dewi berharap akan ada pembenahan manajemen dan inovasi format siaran agar radio tersebut tidak sekadar menjadi bagian sejarah, tetapi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Penutupan RWS menjadi cermin tantangan serius industri radio lokal, yang kini dituntut bertransformasi atau tergerus oleh perubahan perilaku konsumsi media masyarakat. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.