Produktivitas Tebu Naik, Swasembada Gula Dipertaruhkan

oleh -35 Dilihat
oleh
Produktivitas Tebu Naik, Swasembada Gula Dipertaruhkan
foto Direktur Manajemen Risiko Petrokimia Gresik Johanes Barus (kiri) melakukan MoU dengan Direktur PT Sinergi Gula Nusantara (SGN)
banner 468x60

Gresik, Garudasatunews.id – Lonjakan produktivitas tebu nasional melalui program Agrosolution Petrokimia Gresik mulai mengubah peta industri gula, namun efektivitasnya dalam mewujudkan swasembada masih menyisakan sejumlah pertanyaan mendasar.

Program yang dijalankan Petrokimia Gresik ini mencakup lahan hingga 244.721 hektare, menjadikannya salah satu inisiatif agribisnis terbesar di sektor tebu. Pendekatan integrasi hulu-hilir diklaim mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas secara signifikan.

Direktur Manajemen Risiko Petrokimia Gresik, Johanes Barus, menyebut produktivitas meningkat rata-rata 12 persen, dengan kenaikan pendapatan petani mencapai Rp8,1 juta per hektare. Namun, klaim ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut terkait distribusi manfaat di tingkat petani kecil.

Ekspansi lahan yang meningkat tajam dari 6.747 hektare pada 2021 menjadi 75.885 hektare pada 2025 menunjukkan pertumbuhan agresif. Meski demikian, percepatan ini juga memunculkan tantangan terkait keberlanjutan pengelolaan dan ketergantungan pada input industri.

Kerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara, PT Pabrik Gula Rajawali I, dan PT PG Candi Baru memperkuat rantai pasok gula nasional. Peran offtaker dinilai penting dalam menjamin pasar, namun juga berpotensi menciptakan ketergantungan baru bagi petani terhadap korporasi besar.

Di sisi lain, penggunaan pupuk nonsubsidi disebut mampu mengurangi ketergantungan terhadap subsidi pemerintah. Namun, efektivitas kebijakan ini masih bergantung pada stabilitas harga pupuk dan daya beli petani di berbagai daerah.

Penerapan teknologi Smart Precision Farming melalui Petrospring menjadi salah satu inovasi utama. Meski menjanjikan efisiensi, adopsi teknologi di tingkat petani masih menghadapi kendala literasi dan kesiapan infrastruktur.

Program ini juga melibatkan dukungan sektor perbankan, asuransi, dan pendampingan teknis. Namun, integrasi lintas sektor tersebut membutuhkan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan beban tambahan bagi petani dalam bentuk skema pembiayaan yang kompleks.

Secara makro, program ini selaras dengan agenda nasional untuk mengurangi impor gula dan memperkuat ketahanan pangan. Namun, tanpa transparansi data produksi dan distribusi, target swasembada berisiko menjadi klaim optimistis yang belum sepenuhnya teruji.

Dengan berbagai capaian dan tantangan yang ada, Agrosolution diposisikan sebagai pengubah permainan di industri gula. Namun keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi, pemerataan manfaat, serta keberpihakan nyata kepada petani.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.