SURABAYA, Garudasatunews.id – Ratusan personel gabungan dari Brimob, Polda Jawa Timur, dan Polrestabes Surabaya masih disiagakan di kawasan Jalan Teuku Umar, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, Selasa (28/7/2026) malam. Pengamanan berlapis dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah bentrokan susulan setelah insiden yang melibatkan kelompok perguruan silat PSHT dan Ormas Maluku Satu Rasa (M1R).
Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya lima truk Dalmas Polda Jatim ditempatkan di sejumlah titik akses menuju Jalan Teuku Umar. Kehadiran aparat dengan kekuatan penuh bertujuan menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Peningkatan pengamanan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran warga dan pelaku usaha yang beraktivitas di kawasan tersebut. Sejumlah pemilik usaha mengaku mengalami penurunan jumlah pelanggan akibat situasi yang dinilai belum sepenuhnya kondusif.
Antok (26), seorang juru parkir di salah satu kafe di Jalan Teuku Umar, mengatakan jumlah personel kepolisian yang berjaga meningkat signifikan dalam dua hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas ekonomi di sekitar lokasi.
“Dua hari terakhir paling banyak ini mas. Ini kira-kira kapan ya sampai seperti ini. Khawatir juga saya. Kasian orang yang punya usaha di sekitar sini jadi sepi,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Selain berdampak terhadap aktivitas usaha, Antok juga menyebut warga sekitar merasa terganggu oleh situasi keamanan yang belum sepenuhnya pulih. Ia mengaku beberapa kali mendengar adanya gesekan maupun bentrokan susulan yang terjadi pada dini hari sejak Minggu (26/7/2026).
“Kasian warga sini yang tidak tahu apa-apa jadi terganggu waktu istirahatnya. Kan ga bisa terus-terusan begini mas situasinya,” katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, rangkaian peristiwa bermula dari bentrokan di kawasan Jalan Basuki Rahmat. Insiden tersebut terjadi saat empat penagih utang (debt collector) yang disebut berasal dari Ormas Maluku Satu Rasa (M1R) hendak melakukan penarikan kendaraan milik seorang penampil Ambyar Club berinisial W.
Dalam proses tersebut, empat anggota M1R dilaporkan sempat terlibat pengeroyokan oleh puluhan orang yang diduga merupakan oknum anggota PSHT. Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi bentrokan lanjutan.
Bentrokan berikutnya dilaporkan melibatkan penggunaan senjata tajam. Akibat kejadian tersebut, satu anggota M1R mengalami luka bacok serius hingga jarinya nyaris putus, sementara dua orang dari pihak PSHT juga dilaporkan mengalami luka akibat sabetan senjata tajam.
Hingga saat ini, aparat kepolisian masih melakukan pengamanan intensif di sejumlah titik yang dinilai rawan untuk mengantisipasi potensi aksi balasan maupun gangguan keamanan lainnya. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan situasi tetap terkendali sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar lokasi.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pihak M1R telah menyerahkan seorang yang diduga terlibat dalam pembacokan terhadap anggota PSHT kepada Polrestabes Surabaya. Penyerahan tersebut dilakukan untuk menjalani proses hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kasus ini masih dalam penanganan aparat penegak hukum. Kepolisian diharapkan mengusut secara menyeluruh rangkaian peristiwa, mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab berdasarkan alat bukti yang sah, serta memastikan proses penegakan hukum berlangsung profesional, transparan, dan berkeadilan guna mencegah terulangnya konflik serupa di kemudian hari.
(Red-Garudasatunews)*














