PG Ngadirejo Bidik 80 Ribu Ton Gula

oleh -93 Dilihat
oleh
PG Ngadirejo Bidik 80 Ribu Ton Gula
Tradisi Kirab Tebu Manten awali musim giling PG Ngadirejo Kediri.
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Pabrik Gula (PG) Ngadirejo Kediri memulai musim giling 2026 dengan menggelar prosesi selamatan yang dikemas dalam tradisi Kirab Tebu Manten, Sabtu (2/5/2026), di tengah target produksi yang meningkat signifikan dan tantangan industri gula yang belum sepenuhnya stabil.

Kegiatan seremonial ini dihadiri jajaran manajemen PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), aparat pemerintah daerah, hingga kepolisian. Namun di balik nuansa budaya yang ditampilkan, manajemen pabrik mematok target produksi ambisius yang memerlukan kesiapan menyeluruh dari sisi bahan baku hingga distribusi.

General Manager PG Ngadirejo, Wayan Mei Purwono, menyatakan musim giling tahun ini ditargetkan mampu mengolah 11 juta kuintal tebu dengan proyeksi produksi mencapai 80 ribu ton gula, meningkat dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 70 ribu ton.

“Kami tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memastikan produksi meningkat. Target ini sudah kami siapkan dari sisi operasional dan kemitraan,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, nilai perputaran dana dalam satu musim giling diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun. Angka ini sebagian besar disebut akan kembali ke masyarakat sekitar, khususnya petani tebu yang menjadi mitra utama perusahaan.

Namun, capaian tersebut bergantung pada pasokan bahan baku dari 1.015 petani, dengan distribusi wilayah meliputi Kediri, Blitar, dan Malang. Ketergantungan ini menempatkan petani sebagai faktor krusial dalam keberhasilan produksi, sekaligus membuka potensi risiko jika terjadi gangguan pada sektor hulu.

Manajemen mengklaim telah melakukan pendampingan sejak tahap awal, mulai dari pengolahan lahan hingga pemasaran hasil. Meski demikian, transparansi skema bagi hasil dan kepastian harga masih menjadi perhatian, mengingat pembahasan teknis baru akan dilakukan pada 8 Mei mendatang.

“Kami menggunakan sistem bagi hasil berdasarkan harga gula dan tetes. Penjualan dilakukan bersama, dan hasilnya dibagikan ke petani secara berkala,” kata Wayan.

Di sisi lain, industri gula tahun ini dihadapkan pada sejumlah tekanan, mulai dari dampak sisa fenomena El Nino hingga kenaikan harga bahan penunjang produksi seperti karung plastik yang dilaporkan meningkat hingga 1,5 kali lipat. Kondisi ini berpotensi memengaruhi efisiensi biaya produksi jika tidak diantisipasi secara tepat.

PG Ngadirejo mengaku telah menyiapkan strategi efisiensi energi dan pengolahan untuk menekan biaya tanpa mengurangi pendapatan petani. Namun efektivitas langkah tersebut masih akan diuji selama proses giling yang berlangsung sekitar 200 hari ke depan.

Selain itu, aktivitas operasional pabrik yang berada di jalur persimpangan nasional berpotensi menimbulkan dampak sosial, terutama terkait lalu lintas dan mobilitas warga. Pihak manajemen pun mengakui adanya potensi gangguan selama musim giling berlangsung.

“Kami mohon dukungan masyarakat, termasuk kedisiplinan sopir angkutan tebu agar tidak mengganggu lalu lintas,” ujarnya.

Di tengah target swasembada gula nasional, kinerja PG Ngadirejo menjadi salah satu indikator penting. Namun keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh capaian produksi, melainkan juga pada sejauh mana tata kelola kemitraan, transparansi distribusi hasil, serta mitigasi dampak sosial dapat dijalankan secara konsisten.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.