Pesanan Sarung Goyor Meledak, Perajin Kewalahan Produksi

oleh -171 Dilihat
oleh
Pesanan Sarung Goyor Meledak, Perajin Kewalahan Produksi
Perajin sarung tenun goyor di Penggaron Jombang menunjukkan produksinya
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Lonjakan pesanan sarung tenun goyor di Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, meningkat hingga 200 persen menjelang Lebaran, memaksa para perajin bekerja di luar kapasitas normal dan mengindikasikan kuatnya permintaan pasar yang belum sepenuhnya diimbangi kesiapan produksi lokal.

Peningkatan tajam terjadi sejak awal Ramadan, dengan pesanan datang bertubi-tubi dari pondok pesantren, instansi, hingga perusahaan yang menjadikan sarung tradisional sebagai paket bingkisan hari raya. Kondisi ini membuat para perajin harus menambah jam kerja hingga larut malam untuk mengejar target pengiriman.

Siti Khoiriumah, pemilik usaha sarung tenun goyor setempat, mengungkapkan bahwa Ramadan tahun ini menjadi periode paling sibuk dibanding bulan-bulan sebelumnya.
“Permintaan meningkat sangat pesat, terutama dari pondok pesantren dan perusahaan untuk bingkisan Lebaran,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Pesanan tidak hanya berasal dari wilayah Jombang, tetapi juga mengalir dari berbagai daerah luar Jawa Timur seperti Kalimantan dan Banyumas. Meluasnya pasar menunjukkan sarung goyor tidak lagi sekadar produk tradisional lokal, melainkan telah masuk rantai distribusi antardaerah tanpa didukung sistem produksi skala besar.

Dalam prosesnya, pembuatan satu potong sarung membutuhkan ketelitian tinggi dengan waktu pengerjaan rata-rata dua hingga tiga hari. Faktor cuaca menjadi kendala serius karena memengaruhi proses pengeringan benang dan kestabilan kualitas tenun. Saat musim hujan atau cuaca mendung, produksi melambat dan berisiko menunda pengiriman.

“Jika cuaca panas, produksi lebih lancar. Namun saat hujan atau mendung, benang lebih lama kering,” jelas Siti.

Meski dibanderol mulai Rp250 ribu per potong, permintaan tetap tinggi. Konsumen menilai kualitas bahan, motif khas, serta kenyamanan pemakaian menjadi alasan utama tetap memilih sarung tenun dibanding produk pabrikan.

Saat ini, para perajin rata-rata hanya mampu menghasilkan sekitar 15 potong per hari, angka yang dinilai belum sebanding dengan lonjakan permintaan. Keterbatasan alat tenun tradisional dan tenaga kerja terampil menjadi tantangan utama yang berpotensi menghambat keberlanjutan produksi jika tidak ada dukungan pengembangan industri kerajinan.

Bagi para perajin, Ramadan memang membawa peningkatan pendapatan, namun di sisi lain juga membuka persoalan klasik: tingginya permintaan tidak selalu diikuti penguatan kapasitas produksi, modernisasi alat, maupun regenerasi tenaga penenun.

“Kami berharap usaha sarung tenun goyor ini bisa terus berkembang dan dikenal lebih luas,” harap Siti. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.