Perlindungan ABK Jadi Sorotan, Orang Tua Dibekali Pencegahan Kekerasan

oleh -77 Dilihat
oleh
Perlindungan ABK Jadi Sorotan, Orang Tua Dibekali Pencegahan Kekerasan
Wawancara dengan Dr. dr. Ariani dan Diforia Band
banner 468x60

MALANG, Garudasatunews.id – Ancaman kekerasan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) kembali menjadi perhatian serius. Kelompok anak dengan kebutuhan khusus dinilai masih berada pada posisi paling rentan menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual akibat keterbatasan dalam mengenali, memahami, dan melaporkan tindakan yang mengancam keselamatan mereka.

Merespons kondisi tersebut, House of Fatima Child Center menggelar Talkshow Parenting bertajuk “Ruang Aman Berbagi Cerita untuk Anak Berkebutuhan Khusus” di Lantai 3 Transmart Malang, Jalan Veteran, Jumat (29/5/2026). Kegiatan ini difokuskan pada upaya memperkuat peran orang tua dalam membangun sistem perlindungan dini bagi ABK dari berbagai bentuk kejahatan yang berpotensi terjadi di lingkungan sekitar.

Inisiator kegiatan yang juga Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Dr. dr. Ariani, M.Kes., Sp.A(K), SubSp.TKPS(K), menegaskan bahwa meningkatnya pemberitaan mengenai kasus kekerasan di masyarakat menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memberikan perlindungan lebih terhadap kelompok rentan, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Menurutnya, ABK memiliki risiko lebih tinggi menjadi sasaran tindak kekerasan karena keterbatasan tertentu yang dimiliki, sehingga edukasi kepada orang tua menjadi langkah penting dalam membangun ruang aman bagi anak-anak tersebut.

Selain isu perlindungan, kegiatan ini juga menyoroti masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Stigma negatif yang kerap melekat pada ABK dinilai masih menjadi tantangan serius dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan ramah disabilitas.

Dr. Ariani menilai masih banyak masyarakat yang memandang ABK sebagai individu yang tidak mampu berkembang. Padahal, mereka memiliki potensi, bakat, dan kemampuan yang dapat dikembangkan apabila memperoleh dukungan yang tepat dari keluarga maupun lingkungan sosial.

Tingginya perhatian masyarakat terhadap isu tersebut terlihat dari membludaknya jumlah peserta yang hadir. Kuota awal sebanyak 50 peserta terpaksa ditambah menjadi 60 orang karena tingginya minat orang tua dari berbagai wilayah Kota dan Kabupaten Malang untuk mengikuti kegiatan edukatif tersebut.

Kegiatan semakin menarik dengan penampilan Diforia Band, grup musik yang seluruh personelnya merupakan penyandang disabilitas, terdiri dari anak-anak dengan autisme, Down syndrome, dan disabilitas intelektual. Grup tersebut diperkuat oleh Alfina sebagai vokalis, Alberth pada gitar, serta Dwi sebagai pemain keyboard.

Meski berproses secara otodidak, penampilan mereka mendapat apresiasi dari pengunjung yang hadir. Sebelum penampilan Diforia Band, para orang tua yang tergabung dalam ABeKa Mom’s Craft juga menampilkan pertunjukan musik angklung sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan bakat ABK.

Sugiati, orang tua dari Dwi, mengungkapkan perkembangan positif yang dialami putranya sejak bergabung dalam kegiatan musik tersebut. Menurutnya, pembinaan yang dilakukan telah membuka ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Hal serupa disampaikan Masriya, orang tua Alfina. Ia menilai keterlibatan dalam aktivitas musik tidak hanya meningkatkan kemampuan berkesenian, tetapi juga membangun rasa percaya diri, semangat, serta kemampuan bersosialisasi antaranggota kelompok.

Pada sesi utama, psikolog Suyanto, S.Psi., M.Si., MMRS, memberikan pembekalan kepada para orang tua terkait strategi pendampingan ABK agar mampu mengenali potensi ancaman, memahami batasan interaksi yang aman, serta berani menyampaikan informasi apabila mengalami tindakan yang mengarah pada kekerasan.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi House of Fatima Child Center bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya serta dukungan Transmart Malang. Melalui edukasi berkelanjutan dan penguatan peran keluarga, para penyelenggara berharap upaya perlindungan terhadap anak berkebutuhan khusus dapat semakin optimal sekaligus memperkuat ekosistem inklusi di Kota Malang.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.