PEPC JTB Rampungkan Arboretum di Dua Sekolah Bojonegoro

oleh -19 Dilihat
oleh
PEPC JTB Rampungkan Arboretum di Dua Sekolah Bojonegoro
PEPC Jambaran-Tiung Biru merampungkan pembangunan fasilitas arboretum di SMPN 1 Ngasem dan SMPN 2 Purwosari pada 2025. Fasilitas yang dibangun meliputi gazebo, rumah kaca, mini embung, dan jalur batas kawasan hutan sekolah.
banner 468x60

BOJONEGORO, Garudasatunews.id – PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 Jambaran–Tiung Biru (JTB) menuntaskan pembangunan fasilitas arboretum di dua sekolah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Program penghijauan berbasis pendidikan tersebut menyasar 989 warga sekolah dan 20 keluarga penerima manfaat di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, sebagai bagian dari upaya mengurangi jejak emisi karbon di sekitar wilayah operasi perusahaan.

Penyelesaian fasilitas tersebut merupakan bagian dari Program Biru Langit Jambaran Tiung Biru bertajuk Pengurangan Jejak Emisi Karbon Berbasis Sekolah, yang dilaksanakan bersama ADEMOS Indonesia. Pembangunan fasilitas fisik di SMPN 1 Ngasem dan SMPN 2 Purwosari dilaporkan mencapai 100 persen pada 2025.

Empat Fasilitas Pendukung Pendidikan Lingkungan

Arboretum di kedua sekolah dilengkapi empat fasilitas utama, yakni gazebo sebagai ruang belajar terbuka, greenhouse untuk pembibitan dan pengenalan tanaman, mini embung untuk mendukung konservasi air, serta jalur pembatas kawasan hutan sekolah.

Penanaman vegetasi lokal dan pohon peneduh juga telah diselesaikan untuk melengkapi koleksi tanaman sekaligus mendukung fungsi ekologis kawasan. Fasilitas tersebut dirancang menjadi ruang pembelajaran langsung agar siswa tidak hanya memahami teori lingkungan, tetapi juga dapat mempraktikkan kegiatan penghijauan dan perawatan tanaman.

Program ini telah berjalan sejak 2022. Pada tahap awal, kegiatan difokuskan pada edukasi jejak emisi karbon dan penanaman 12.000 vegetasi di bantaran Sungai Gandong. Tahap berikutnya mencakup pengumpulan data emisi berbasis digital serta penguatan legalitas pengelolaan hutan sekolah.

Head of Communication Relations & CID PEPC Zona 12, Weanny Hikmat, menyatakan bahwa penyelesaian arboretum diharapkan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, melainkan berkembang menjadi sarana pembelajaran lingkungan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Ngasem, Ahmad Sodikin, mengapresiasi keberadaan fasilitas tersebut. Menurutnya, siswa kini memiliki kesempatan belajar secara langsung mengenai penanaman, perawatan pohon, dan peran vegetasi dalam menyerap karbon.

Keberlanjutan Program Menjadi Tantangan Berikutnya

Di balik rampungnya pembangunan, keberhasilan program lingkungan ini juga bergantung pada pemeliharaan fasilitas, keberlangsungan vegetasi, serta keterlibatan aktif sekolah dan masyarakat. Infrastruktur yang telah tersedia perlu diikuti dengan pengelolaan rutin agar manfaatnya tidak berhenti setelah proyek fisik selesai.

Untuk mendukung akuntabilitas, tim pelaksana menyusun dokumen Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan Social Return on Investment (SROI). Kedua instrumen tersebut ditujukan untuk mengukur dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari investasi program.

Keberlanjutan pengelolaan juga didukung Surat Keputusan (SK) Hutan Sekolah, penguatan Komite Imbal Jasa Sekolah, serta koordinasi antara PEPC JTB, pemerintah desa, dan dinas terkait.

Pada 2026, program dilanjutkan melalui pengembangan dasbor pemantauan jejak emisi sekolah, penyusunan prosedur operasional standar pengelolaan hutan sekolah dan kompos, serta dokumentasi perjalanan program.

Kontribusi Lingkungan dan Tanggung Jawab Perusahaan

Program arboretum menjadi salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dalam mendukung pendidikan lingkungan dan pengurangan emisi karbon di sekitar wilayah operasi JTB. Namun, dampak jangka panjangnya tetap perlu ditopang oleh evaluasi berkala, transparansi hasil pengukuran, serta keterlibatan penerima manfaat.

Dengan melibatkan sekolah dan masyarakat, program ini diharapkan mampu membangun kebiasaan peduli lingkungan sejak dini sekaligus mendukung upaya menuju Net Zero Emission.

Keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh selesainya pembangunan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak menjaga fasilitas, merawat tanaman, dan memastikan manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan.

(Red-Garudasatunews) 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.