Penipuan WA Pejabat Bondowoso Kian Masif

oleh -48 Dilihat
oleh
Penipuan WA Pejabat Bondowoso Kian Masif
Ilustrasi nomor WA palsu pejabat Bondowoso.
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Aksi penipuan bermodus peniruan identitas pejabat daerah melalui nomor WhatsApp palsu kembali merebak di Kabupaten Bondowoso. Terbaru, pelaku mencatut nama Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i, untuk melancarkan aksinya pada Sabtu (28/3/2026), menandai eskalasi pola kejahatan digital yang semakin terorganisir.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bondowoso, Dwi Wahyudi, mengonfirmasi bahwa praktik ini bukan kasus tunggal. Dalam sebulan terakhir, terutama selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri, pola serupa terus berulang dengan menyasar sejumlah pejabat penting daerah sebagai “tameng” untuk menipu masyarakat.

Sebelumnya, pelaku juga diketahui mencatut nama Sekretaris Daerah Fathur Rozi, Ketua DPRD Ahmad Dhafir, hingga beberapa kepala dinas seperti Kalaksa BPBD Kristianto Putro Prasojo. Rentetan kasus ini mengindikasikan adanya pola sistematis yang memanfaatkan kredibilitas pejabat publik demi keuntungan ilegal.

Modus yang digunakan pun beragam, mulai dari permintaan sumbangan, pinjaman uang melalui transfer bank, hingga permintaan pengisian pulsa. Pelaku memanfaatkan kedudukan dan pengaruh pejabat untuk membangun kepercayaan korban dalam waktu singkat.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait kerugian materiil dari masyarakat. Namun, minimnya laporan justru memunculkan dugaan adanya potensi korban yang belum terdata atau enggan melapor, sehingga membuka celah bagi pelaku untuk terus beraksi.

Diskominfo Bondowoso mengklaim telah melakukan langkah cepat dengan menyebarluaskan peringatan melalui berbagai kanal informasi resmi. Upaya ini dilakukan untuk menekan penyebaran nomor palsu sekaligus meningkatkan kewaspadaan publik.

Masyarakat diminta tidak langsung mempercayai pesan yang mengatasnamakan pejabat, serta melakukan verifikasi sebelum mengambil tindakan, terutama yang berkaitan dengan permintaan uang atau pulsa. Pemerintah daerah menilai literasi digital menjadi kunci utama untuk memutus rantai penipuan berbasis impersonasi ini.

Fenomena ini sekaligus menjadi peringatan serius atas lemahnya kontrol identitas di platform komunikasi digital, yang terus dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan dengan pola yang semakin adaptif dan sulit dilacak. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.