Pendaki Gunung Piramid Maliya Finda Dimakamkan di Lamongan

oleh -39 Dilihat
oleh
Pendaki Gunung Piramid Maliya Finda Dimakamkan di Lamongan
Pemakaman almarhumah Maliya Finda di TPU Babat Lamongan, Kamis (6/8/2026).
banner 468x60

LAMONGAN, Garudasatunews.id – Jenazah Maliya Finda (51), pendaki yang ditemukan meninggal dunia di medan ekstrem kawasan Punggung Naga Gunung Piramid, Kabupaten Bondowoso, dimakamkan di kampung halamannya di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Kamis (6/8/2026). Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dan dihadiri keluarga, kerabat, serta warga yang memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah.

Jenazah tiba di Babat sekitar pukul 06.00 WIB sebelum diberangkatkan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Babat sekitar pukul 07.00 WIB. Suasana duka menyelimuti rumah duka ketika keluarga dan para pelayat mengantarkan almarhumah ke tempat peristirahatan terakhir.

Maliya dikenal di lingkungan keluarga, sahabat, dan rekan-rekannya sebagai sosok yang memiliki kecintaan terhadap aktivitas alam bebas. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan pendakian gunung disebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun.

Salah seorang pelayat, Yono, yang merupakan adik kelas Maliya saat menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Babat, mengenang almarhumah sebagai pribadi yang ramah dan memiliki semangat petualangan sejak masih remaja.

“Dari dulu beliau pribadinya memang petualang. Di kalangan teman-teman sekolah dulu juga mengakui itu,” ujar Yono.

Menurutnya, kegemaran Maliya menjelajahi alam tidak pernah surut hingga dewasa. Sejak masa kuliah maupun setelahnya, aktivitas mendaki gunung menjadi salah satu kegiatan yang rutin dijalani.

“Setahu saya, sejak kuliah atau pasca-kuliah beliau gemar berpetualang. Sudah banyak gunung yang didaki sama beliau. Beliau orang baik. Teman-teman juga banyak yang merasa kehilangan,” katanya.

Sebelumnya, Maliya Finda dilaporkan hilang saat melakukan pendakian di Gunung Piramid, Kabupaten Bondowoso, bersama pemandu pendakian, Irfan Nasrul Laili (34), warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso.

Tim SAR gabungan kemudian melakukan operasi pencarian hingga akhirnya menemukan kedua korban di kawasan Punggung Naga pada Selasa (4/8/2026). Berdasarkan hasil evakuasi, keduanya ditemukan di kedalaman sekitar 60 meter dengan jarak kurang lebih lima meter satu sama lain.

Medan ekstrem kawasan Punggung Naga menjadi salah satu tantangan utama dalam proses penyelamatan. Jalur yang curam, sempit, dan memiliki tingkat kesulitan tinggi membuat proses evakuasi berlangsung cukup lama. Tim SAR gabungan harus menggunakan peralatan khusus serta menerapkan prosedur penyelamatan secara hati-hati demi memastikan proses pengangkatan korban dapat dilakukan dengan aman.

Peristiwa ini kembali menjadi perhatian terkait tingkat risiko pendakian di jalur ekstrem Gunung Piramid. Selain kesiapan fisik dan perlengkapan, pendakian pada jalur dengan tingkat kesulitan tinggi memerlukan perencanaan matang, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, serta koordinasi dengan pihak berwenang maupun pemandu yang memahami karakteristik medan.

Hingga proses pemakaman selesai dilaksanakan, keluarga, kerabat, dan warga terus berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa serta mendoakan almarhumah yang semasa hidup dikenal memiliki semangat tinggi dalam menjelajahi alam bebas. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.