MOJOKERTO, Garudasatuunews.id – Pemerintah Kota Mojokerto mendorong penguatan gerakan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat melalui program Budaya RT Berseri. Program ini digagas bukan sekadar lomba kebersihan, melainkan gerakan kolektif di tingkat rukun tetangga untuk menciptakan lingkungan permukiman yang sehat, tertata, dan berkelanjutan.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari turun langsung melakukan sosialisasi program tersebut ke sejumlah wilayah. Pada Rabu (11/3/2026), Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyambangi Kelurahan Meri dan Mentikan di Kecamatan Prajurit Kulon serta Kelurahan Kedundung di Kecamatan Magersari.
Menurut Ning Ita, Budaya RT Berseri dirancang sebagai strategi membangun kesadaran kolektif warga dalam mengelola lingkungan dari tingkat paling dasar, yakni RT. Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan program tersebut.
“Ini bukan sekadar lomba kebersihan lingkungan. Budaya RT Berseri kami rancang sebagai gerakan perubahan perilaku agar kebiasaan menjaga kebersihan, menanam tanaman, hingga memilah sampah dilakukan terus-menerus hingga menjadi budaya di lingkungan RT,” ujarnya.
Dalam implementasinya, seluruh RT di Kota Mojokerto diwajibkan mengikuti program ini. Setiap RT diminta melaporkan aktivitas pengelolaan lingkungan melalui aplikasi Gayatri RT Berseri dengan melampirkan dokumentasi kegiatan sebagai bukti pelaksanaan.
Proses penilaian melibatkan sejumlah perangkat daerah, di antaranya Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPRPERAKIM, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Indikator penilaian mencakup berbagai aspek pengelolaan lingkungan, mulai dari penataan jalan atau gang, penghijauan kawasan, pembuatan lubang resapan biopori, hingga konservasi air.
Selain itu, pengelolaan sampah rumah tangga melalui pemilahan dan pengolahan mandiri juga menjadi komponen penting dalam penilaian. Aspek kesehatan lingkungan turut menjadi perhatian, termasuk ketersediaan fasilitas cuci tangan pakai sabun (CTPS), angka bebas jentik nyamuk, serta pemantauan kasus demam berdarah di wilayah tersebut.
Dari sisi ketahanan pangan dan infrastruktur lingkungan, indikator yang dinilai meliputi pemanfaatan pekarangan rumah untuk tanaman pangan, partisipasi warga dalam bercocok tanam, ketersediaan sarana sanitasi, akses air bersih dan air minum, serta kondisi drainase lingkungan.
Ning Ita menegaskan program Budaya RT Berseri sejalan dengan program nasional Indonesia Asri yang dicanangkan pemerintah pusat untuk memperkuat kualitas lingkungan hidup.
“Budaya RT Berseri yang kita jalankan di Kota Mojokerto sangat relevan dengan program nasional Indonesia Asri, khususnya pada aspek sehat, resik, dan indah. Gerakan di tingkat RT ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program nasional,” jelasnya.
Melalui program tersebut, Pemkot Mojokerto berharap partisipasi masyarakat semakin kuat dalam menjaga kualitas lingkungan sekaligus mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan. (Red-Garudasatuunews)















