SURABAYA, Garudasatunews.id – Pemerintah Kota Surabaya bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya resmi menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat melalui pemetaan kondisi kesehatan warga hingga tingkat rukun warga (RW).
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, kolaborasi ini menitikberatkan pada pendekatan promotif dan preventif berbasis data serta sains, dimulai dari level paling dasar di lingkungan masyarakat.
“Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memetakan kondisi kesehatan warga secara detail dan menyeluruh dari tingkat RW,” kata Eri, Rabu.
Pemetaan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kesehatan anak dan remaja, kesehatan perempuan dan reproduksi, hingga penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit degeneratif, kanker, serta pengendalian tuberkulosis (TBC).
Menurut Eri, setiap RW akan dipetakan secara rinci, tidak hanya soal penyakit, tetapi juga kondisi kesehatan warga secara umum, termasuk stunting dan ibu hamil berisiko tinggi.
“Dalam satu RW, kami ingin tahu persoalan kesehatannya apa saja. Dari situ akan terlihat peta masalah kesehatan warga,” ujarnya.
Data yang terkumpul kemudian akan dianalisis bersama IDI untuk membentuk klaster-klaster kesehatan di setiap RW. Dari analisis tersebut, Pemkot dapat menentukan sektor kesehatan mana yang perlu penanganan prioritas.
“Dengan kajian IDI, kita bisa tahu Surabaya ini darurat kesehatan di bidang apa, lalu menyusun langkah penanganannya secara tepat,” tegasnya.
Eri menekankan, keberhasilan program ini tidak diukur dari tingginya angka kunjungan ke rumah sakit, melainkan dari menurunnya penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.
“Daerah yang sehat bukan yang warganya sering ke rumah sakit karena sakit, tapi yang rutin memeriksakan kesehatan. Itu tanda upaya pencegahan berjalan,” katanya.
Ia mengakui, Pemkot Surabaya tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Karena itu, ia mengapresiasi peran IDI yang mendorong kerja sama ini segera diwujudkan.
Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi menyambut baik MoU tersebut. Menurutnya, keterbukaan dan visi jangka panjang Wali Kota Eri menjadi kekuatan utama dalam meningkatkan derajat kesehatan warga.
“Ini kolaborasi berbasis data dan sains. Kami bersyukur memiliki pemimpin yang terbuka dan berpikir jauh ke depan,” ujarnya.
Shoifi menambahkan, IDI Surabaya memiliki sekitar 7.600 anggota, mulai dari dokter umum, spesialis, guru besar, hingga mahasiswa kedokteran. Seluruh potensi tersebut siap digerakkan untuk mendukung program kesehatan Pemkot secara terstruktur dan berkelanjutan.
“Mulai dari identifikasi masalah, analisis solusi, intervensi, hingga evaluasi akan dilakukan berbasis data sampai tingkat RW. Kami optimistis dampaknya akan besar bagi kesehatan masyarakat Surabaya,” pungkasnya.(Red-Garudasatunews)














