Pemkab Gresik Keruk Waduk dan Sungai Cegah Banjir

oleh -32 Dilihat
oleh
Pemkab Gresik Keruk Waduk dan Sungai Cegah Banjir
Alat berat excavator melakukan normalisasi Kali Lamong untuk mencegah meluapnya air ke pemukiman warga.
banner 468x60

GRESIK, Garudasatunews.id – Pemerintah Kabupaten Gresik memanfaatkan momentum musim kemarau untuk melakukan pengerukan waduk dan sungai sebagai bagian dari langkah antisipasi menghadapi potensi banjir saat musim hujan. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tampungan air sekaligus memperlancar aliran sungai.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian banjir di Kabupaten Gresik yang selama ini menghadapi persoalan genangan akibat tingginya debit air dan kapasitas sejumlah badan sungai yang terbatas. Pemkab Gresik juga berkolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dalam penanganan sejumlah sungai yang menjadi jalur aliran air di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Gresik Dhiannita Tri Astuti sebelumnya menjelaskan, karakteristik wilayah Gresik yang berada di bagian hilir membuat sejumlah kawasan memiliki risiko genangan yang lebih lama ketika terjadi luapan sungai.

Salah satu perhatian utama berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Lamong. Sungai tersebut menjadi salah satu penyumbang banjir terbesar, terutama di wilayah selatan Kabupaten Gresik. Selain Kali Lamong, terdapat sejumlah sungai besar lain yang melintasi wilayah Gresik, termasuk Bengawan Solo dan Kali Surabaya.

Karena itu, pengerukan waduk dan sungai saat kemarau dipandang penting untuk mengembalikan fungsi badan air yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. Material endapan yang menumpuk dapat mengurangi volume tampungan dan kapasitas aliran sehingga berpotensi memperbesar risiko luapan ketika curah hujan meningkat.

Upaya pengendalian tidak hanya dilakukan melalui pengerukan. Pemkab Gresik juga telah melakukan sejumlah langkah lain, antara lain normalisasi sungai, pembangunan parapet, penguatan tanggul, pembebasan lahan, pembangunan kolam retensi, hingga normalisasi anak sungai.

Momentum kemarau menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan pekerjaan fisik tersebut sebelum memasuki periode dengan intensitas hujan tinggi. Dengan kondisi waduk dan saluran sungai yang lebih optimal, air hujan diharapkan dapat ditampung maupun dialirkan secara lebih efektif sehingga tekanan terhadap kawasan permukiman dapat dikurangi.

Di sisi lain, kondisi kemarau juga menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara seimbang. Data Dinas PUTR Gresik pada Agustus 2026 mencatat sebanyak 156 waduk dan 115 daerah irigasi mulai mengalami kekeringan. Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap ketersediaan air untuk sektor pertanian.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan waduk tidak hanya berkaitan dengan mitigasi banjir, tetapi juga menyangkut ketersediaan air ketika musim kering. Karena itu, pengerukan dan pemeliharaan badan air perlu dilakukan secara terukur agar fungsi tampungan dapat berjalan optimal menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni kekeringan dan banjir.

Pemerintah Kabupaten Gresik dituntut memastikan langkah mitigasi tidak berhenti pada pengerukan, tetapi dilanjutkan dengan pemeliharaan rutin, pengawasan sedimentasi, penguatan infrastruktur pengendali banjir, serta koordinasi lintas kewenangan dengan pemerintah pusat melalui BBWS.

Dengan persiapan sejak musim kemarau, kapasitas infrastruktur pengendali air diharapkan lebih siap menghadapi perubahan cuaca dan peningkatan curah hujan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari mitigasi risiko banjir agar dampaknya terhadap masyarakat, permukiman, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi dapat ditekan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.