Pelajar SMP Tewas Gantung Diri di Gudang Masjid

oleh -49 Dilihat
oleh
FOTO ILUSTRASI Pelajar SMP Tewas Gantung Diri di Gudang Masjid
FOTO ILUSTRASI Pelajar SMP Tewas Gantung Diri di Gudang Masjid
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Penemuan jenazah pelajar SMP di gudang masjid wilayah Kelurahan Burengan, Kota Kediri, mengungkap rangkaian peristiwa yang memunculkan pertanyaan terkait pengawasan keluarga dan respons lingkungan terhadap kasus hilangnya anak di bawah umur.

Korban berinisial ZMA (15), warga Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat malam (24/4/2026) sekitar pukul 18.15 WIB di gudang Masjid Bidayatul Mustahdin.

Kapolsek Pesantren, Kompol Siswandi, menyatakan korban diduga meninggal akibat gantung diri. Polisi mengklaim tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lokasi kejadian.

Sebelumnya, korban dilaporkan hilang oleh keluarga setelah meninggalkan rumah tanpa pamit selama dua hari. Namun, tidak dijelaskan secara rinci upaya pencarian maupun respons cepat yang dilakukan sejak laporan kehilangan tersebut.

Penemuan jenazah bermula dari kecurigaan seorang warga, Sulastri, yang melihat bayangan mencurigakan saat berada di dapur masjid. Setelah memastikan bersama warga lain, korban ditemukan dalam kondisi tergantung pada bagian blandar gudang yang minim pencahayaan.

Laporan kemudian diteruskan ke aparat kepolisian yang segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hasil sementara menyebutkan kematian korban sebagai “murni gantung diri” tanpa indikasi penganiayaan.

“Tidak ditemukan luka akibat benda tumpul maupun tajam. Bekas jeratan pada leher sesuai dengan tali yang digunakan,” ujar Kompol Siswandi.

Namun, di lokasi kejadian ditemukan secarik kertas berisi pesan emosional yang diduga ditujukan kepada seorang perempuan bernama Najwa. Temuan ini membuka dugaan adanya faktor psikologis yang melatarbelakangi tindakan korban, meski belum dilakukan pendalaman lebih lanjut.

Dari keterangan keluarga, korban diketahui tinggal bersama kerabat setelah kedua orang tuanya bercerai. Sebelum dilaporkan hilang, korban disebut sempat mendapat teguran dari ibunya terkait penggunaan bahasa kasar dalam percakapan pesan singkat.

Kondisi tersebut menyoroti potensi tekanan emosional yang dialami korban, namun hingga kini belum ada pendalaman profesional terkait aspek kesehatan mental maupun lingkungan sosial korban.

Pihak keluarga menolak dilakukan autopsi dan telah menyatakan menerima kejadian ini sebagai musibah. Keputusan tersebut sekaligus membatasi ruang investigasi lanjutan untuk memastikan secara menyeluruh penyebab kematian.

Jenazah korban telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Kasus ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan terhadap anak di bawah umur serta respons cepat terhadap laporan orang hilang guna mencegah kejadian serupa.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.