LAMONGAN, Garudasatunews.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggencarkan intervensi pasar untuk menahan laju kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan hingga Idul Fitri melalui Operasi Pasar Murah (OPM). Program tersebut digelar di depan Kantor Kecamatan Sukodadi, Lamongan, dan dipantau langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, Rabu (4/3/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari strategi stabilisasi harga yang mulai digencarkan Pemprov Jatim di berbagai daerah. Pemerintah mengakui, momentum Ramadan dan Lebaran kerap memicu lonjakan harga kebutuhan pokok akibat meningkatnya permintaan masyarakat.
Khofifah menyebut kegiatan di Sukodadi merupakan bagian dari rangkaian pasar murah yang telah dilaksanakan di sejumlah wilayah. Hingga awal Maret 2026, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur tercatat telah menggelar sedikitnya 32 titik operasi pasar murah.
“Ini merupakan pasar murah ke-32 yang digelar Disperindag Jatim. Program ini berjalan beriringan dengan langkah bupati dan wali kota di berbagai daerah agar stabilisasi harga bisa lebih optimal,” kata Khofifah saat meninjau lokasi.
Dalam operasi pasar tersebut, sejumlah komoditas dijual jauh di bawah harga pasar. Beras SPHP kemasan lima kilogram dilepas Rp55.000 per sak. Daging ayam ras dijual Rp30.000 per ekor, sementara di pasar umum harganya mencapai sekitar Rp42.000.
Selain itu, gula pasir dipatok Rp14.000 per kilogram, minyak goreng Rp13.000 per liter, dan cabai rawit yang di pasar menyentuh Rp80.000 per kilogram dijual hanya Rp40.000 per kilogram.
Pemerintah daerah berharap skema subsidi harga melalui pasar murah ini mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan logistik rumah tangga tetap terpenuhi selama Ramadan.
“Tentu harapannya ini bisa membantu pemenuhan kebutuhan logistik di masing-masing rumah tangga. Ini bentuk sinergi dengan apa yang dilakukan pemerintah kabupaten dan kota,” ujar Khofifah.
Program operasi pasar murah diperkirakan terus diperluas di sejumlah daerah lain di Jawa Timur sebagai langkah antisipasi potensi gejolak harga menjelang puncak konsumsi masyarakat pada masa Lebaran.
(Red-Garudasatunews)














