Pasar Murah Jatim Diperluas, Banyuwangi Jadi Fokus Pengendalian Inflasi

oleh -36 Dilihat
oleh
Pasar Murah Jatim Diperluas, Banyuwangi Jadi Fokus Pengendalian Inflasi
Pasar Murah Jatim Diperluas, Banyuwangi Jadi Fokus Pengendalian Inflasi
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali memperluas pelaksanaan program Pasar Murah sebagai instrumen pengendalian inflasi daerah dan upaya menjaga daya beli masyarakat. Program tersebut digelar di Lapangan Desa Kedungrejo, Kabupaten Banyuwangi, Jumat (3/7/2026), dengan menyediakan berbagai kebutuhan pokok yang dijual di bawah harga pasar.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa Pasar Murah tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan distribusi bahan pangan bersubsidi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga serta memperkuat perlindungan sosial masyarakat di tengah dinamika ekonomi dan fluktuasi harga pangan.

“Pasar Murah merupakan langkah konkret pemerintah untuk memastikan masyarakat tetap dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas pasar,” ujar Khofifah dalam keterangannya.

Pelaksanaan Pasar Murah di Banyuwangi menjadi bagian dari perluasan program yang sebelumnya telah digelar di sejumlah daerah di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai tingginya antusiasme masyarakat pada setiap penyelenggaraan menunjukkan bahwa intervensi pasar melalui subsidi harga masih menjadi instrumen yang dibutuhkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Pemprov Jatim menyediakan beras premium dengan harga Rp14.000 per kilogram atau Rp70.000 per kemasan lima kilogram. Harga tersebut berada di bawah harga rata-rata pasar yang tercatat mencapai Rp15.166 per kilogram. Selain itu, tersedia pula beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga Rp11.000 per kilogram atau Rp55.000 per kemasan lima kilogram, dengan total stok yang disiapkan mencapai 10 ton.

Sejumlah komoditas pangan lainnya juga dijual dengan harga subsidi, di antaranya gula pasir Rp14.000 per kilogram, MinyaKita Rp13.000 per liter, telur ayam ras Rp20.000 per kemasan, bawang merah Rp28.000 per kilogram, bawang putih Rp24.000 per kilogram, tepung terigu Rp10.000 per kilogram, serta daging ayam ras Rp25.000 per kemasan.

Kebijakan penjualan komoditas di bawah harga pasar tersebut merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam mengendalikan tekanan inflasi pangan yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, terutama pada komoditas strategis.

Selain penjualan bahan pangan murah, Gubernur Khofifah turut menyerahkan bantuan beras kepada warga lanjut usia serta bantuan telur kepada ibu hamil dan anak-anak. Program tersebut diarahkan untuk mendukung peningkatan gizi keluarga sekaligus mempercepat penurunan angka stunting di Jawa Timur.

Dalam kegiatan yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Sejumlah produk UMKM dibeli dan dibagikan kepada masyarakat sebagai upaya mendorong perputaran ekonomi daerah dan memperkuat sektor ekonomi kerakyatan.

Menurut Khofifah, keberlanjutan program Pasar Murah di berbagai daerah diharapkan tidak hanya mampu menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi, tetapi juga memperkuat daya beli masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan akan terus memperluas pelaksanaan program serupa sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah dan penguatan ketahanan ekonomi masyarakat. Keberhasilan program tersebut, menurut pemerintah, akan terus dievaluasi melalui pemantauan stabilitas harga, tingkat keterjangkauan pangan, serta dampaknya terhadap daya beli masyarakat di daerah.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.