Parenting Tuban Bongkar Pola Asuh Bermasalah

oleh -26 Dilihat
oleh
Parenting Tuban Bongkar Pola Asuh Bermasalah
Parenting Akbar di KB-TK Bina Anak Sholeh (BAS) Kabupaten Tuban.
banner 468x60

TUBAN, Garudasatunews.id – KB-TK Bina Anak Sholeh (BAS) Kabupaten Tuban menggelar Parenting Akbar di Aula Ma’had Bahrul Huda, Sabtu (18/4/2026), dengan sorotan tajam pada praktik pola asuh berbasis luka emosional yang dinilai masih menjadi masalah laten di lingkungan keluarga.

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan pembagian rapor siswa ini tidak sekadar seremoni edukatif, tetapi diarahkan sebagai ruang evaluasi terbuka bagi wali murid untuk mengkaji ulang pola pengasuhan yang selama ini diterapkan.

Ketua Komite KB-TK BAS, Bella Revi Sasmita, menegaskan bahwa pola asuh bukan hanya soal kebiasaan, melainkan warisan nilai yang bisa berdampak jangka panjang terhadap perkembangan anak.

“Jika luka bisa diwariskan, maka cinta juga bisa diwariskan. Pilihannya ada pada orang tua,” ujarnya.

Hadir sebagai pembicara utama, Psikolog Klinis Indartik, M.Psi., mengungkap bahwa akar persoalan pengasuhan kerap bersumber dari kondisi emosional orang tua—terutama ibu—yang belum pulih dari pengalaman masa lalu.

“Seorang ibu harus menyelesaikan lukanya terlebih dahulu. Tanpa itu, pengasuhan berisiko membawa beban emosional kepada anak,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan parenting yang selama ini berjalan cenderung parsial karena hanya fokus pada teknik mendidik anak, tanpa menyentuh aspek pemulihan psikologis orang tua.

Indartik menambahkan, minimnya kesadaran terhadap kesehatan mental orang tua dapat memicu pola asuh negatif yang berulang dan berpotensi menjadi siklus antar generasi.

Selain itu, ia menyoroti peran ayah yang kerap terpinggirkan dalam proses pengasuhan. Padahal, keterlibatan ayah dinilai krusial untuk menciptakan keseimbangan emosional dalam keluarga.

“Pengasuhan bukan beban tunggal ibu. Tanpa dukungan ayah, tekanan akan menumpuk dan berdampak pada anak,” jelasnya.

Ia juga mengungkap fenomena yang terjadi di lapangan, di mana banyak ibu menghadapi kelelahan emosional tanpa dukungan memadai, sehingga anak hanya menerima sisa energi dari orang tua.

“Banyak ibu lelah sendiri, terluka sendiri, menyembuhkan sendiri. Akibatnya, anak hanya mendapat sisa energi, ini berbahaya bagi tumbuh kembangnya,” ungkapnya.

Kegiatan ini sekaligus mencerminkan mulai tumbuhnya kesadaran lembaga pendidikan di Kabupaten Tuban terhadap pentingnya integrasi kesehatan mental dalam sistem pendidikan dan pengasuhan anak.

Indartik menegaskan bahwa parenting semacam ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan insidental, melainkan harus menjadi bagian dari sistem pendampingan berkelanjutan di setiap lembaga pendidikan.

“Persoalan mental semakin kompleks dan butuh pendampingan serius. Ini bukan hanya tanggung jawab orang tua, tapi juga institusi pendidikan,” pungkasnya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.