Operasi Katarak Gratis di Sampang, 53 Warga Kembali Menikmati Penglihatan Jelas

oleh -92 Dilihat
oleh
banner 468x60

BANGKALAN, Garudasatunews.id — Pemerintah Kabupaten Bangkalan mengambil langkah tegas dengan membentuk tim khusus lintas sektor untuk menangani persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang jumlahnya mencapai angka cukup besar di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil pendataan sementara, tercatat sekitar 27 ribu anak di Bangkalan masuk kategori tidak sekolah, menjadikan kabupaten ini sebagai wilayah dengan jumlah ATS tertinggi di Jawa Timur. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, Muhaimin, dalam keterangannya pada Sabtu.

“Angka tersebut menempatkan Bangkalan sebagai kabupaten dengan jumlah anak tidak sekolah terbanyak di seluruh Jawa Timur,” ungkapnya.

Muhaimin menjelaskan bahwa cakupan istilah ATS lebih luas dari sekadar putus sekolah. Setidaknya terdapat tiga kelompok utama:
– Anak yang putus sekolah di tengah jalan;
– Lulusan suatu jenjang yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya;
– Anak yang merasa pendidikannya sudah cukup dan memilih berhenti bersekolah.

Dari 18 kecamatan yang ada, Kecamatan Galis dan Kecamatan Kokop tercatat paling tinggi jumlahnya — gabungan keduanya mencapai lebih dari 14 ribu anak, atau lebih dari separuh total ATS di Bangkalan.

Tim Lintas Sektor untuk Penanganan Terpadu,
Karena lingkup masalah yang luas dan kompleks, penanganan tidak bisa dilakukan sendirian oleh Dinas Pendidikan saja. Tim khusus yang dibentuk melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Sosial, Dinas Pemerintahan Desa, serta Dinas Pemuda dan Olahraga. Dukungan juga datang dari Kementerian Agama, lembaga pendidikan nonformal, hingga organisasi sosial keagamaan yang ada di masyarakat.

“Persoalan ini tidak dapat dibebankan kepada satu institusi saja. Cakupannya luas, sehingga pola penanganannya pun harus terpadu dan melibatkan dukungan semua elemen di Bangkalan,” tegas Muhaimin.

Strategi Pemkab Bangkalan
Langkah konkret yang sedang disiapkan meliputi:
– Penyusunan rancangan Peraturan Bupati sebagai landasan hukum penanganan ATS;
– Kunjungan bersama Dinas Pendidikan dan pemerintah desa untuk mendata serta mencari solusi langsung ke akar persoalan;
– Penguatan pendampingan guru dari jenjang PAUD/TK, SD, SMP, hingga SMA agar lebih mampu menjangkau dan mempertahankan anak di sekolah.

Pemerintah daerah berharap langkah terpadu ini dapat menurunkan angka ATS secara bertahap dan memastikan hak pendidikan bagi setiap anak di Bangkalan benar-benar terpenuhi. (Red-Garudasatunews)
####$

Operasi Katarak Gratis di Sampang, 53 Warga Kembali Menikmati Penglihatan Jelas

SAMPANG, Garudasatunews.id — Senyum bahagia dan harapan baru terpancar dari wajah puluhan warga yang berkumpul di RSUD Ketapang, Kabupaten Sampang, Sabtu (29/8/2026). Di momen peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini, mereka menerima anugerah berharga: kesempatan kembali melihat dunia dengan jelas melalui program operasi katarak gratis.

Aksi kemanusiaan ini merupakan hasil kerja sama RSUD Ketapang dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, dan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF).

Direktur RSUD Ketapang, dr. Sukarno, melalui Humas RSUD Ketapang dr. Syafril Alfian Akbar, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperluas jangkauan layanan kesehatan mata berkualitas, khususnya bagi penderita katarak dari kalangan masyarakat kurang mampu.

“Kegiatan ini sekaligus mewujudkan tanggung jawab sosial rumah sakit demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Alhamdulillah, dari 100 pendaftar, sebanyak 53 pasien dinyatakan lolos pemeriksaan awal dan berhak menjalani operasi,” ujar dr. Syafril.

Program ini menggunakan teknologi mutakhir Phacoemulsification (Phaco), teknik operasi dengan sayatan sangat kecil sehingga pemulihan berlangsung lebih cepat dan minim rasa sakit.

“Prosedurnya relatif singkat, lensa mata yang keruh diganti dengan lensa mata buatan atau intraocular lens (IOL). Pascaoperasi, pasien dapat kembali melakukan aktivitas ringan secara bertahap, tentu tetap dengan mengikuti jadwal kontrol dari tim medis,” tambahnya.

Menutup keterangannya, dr. Syafril mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan kesehatan mata. “Katarak bisa diobati. Jangan tunggu hingga penglihatannya makin menurun dan menyulitkan aktivitas sehari-hari. Segeralah periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat jika mulai merasa penglihatan kabur deteksi dini menjaga penglihatan sekaligus menjaga kualitas hidup kita,” pesannya. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.