
PONOROGO, Garudasatunews.id – Pedagang jajanan Lebaran di Pasar Legi Ponorogo mengalami penurunan omzet hingga 50 persen, seiring pergeseran pola belanja masyarakat ke platform online yang dinilai lebih praktis dan kompetitif.
Kondisi pasar yang biasanya padat menjelang Lebaran kini terlihat lengang. Lapak-lapak jajanan tradisional yang sebelumnya menjadi pusat keramaian justru kehilangan daya tarik, menandakan perubahan signifikan perilaku konsumen dalam waktu singkat.
Pedagang mengungkapkan persaingan dengan penjual berbasis digital menjadi faktor utama. Kemudahan akses, variasi produk, serta layanan antar langsung ke rumah membuat pasar tradisional sulit bersaing dalam hal kenyamanan dan efisiensi.
Salah satu pedagang, Wiwit Widiastuti, menyebut peningkatan permintaan memang terjadi menjelang Lebaran, namun tidak signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pembeli yang datang pun cenderung terbatas pada pelanggan lama.
Menurutnya, sebelum Lebaran pembelian hanya berkisar 5 hingga 7 jenis jajanan, jauh dari kondisi sebelumnya yang mampu mendongkrak penjualan secara drastis. Situasi ini membuat perputaran ekonomi di pasar tidak lagi sekuat tahun-tahun sebelumnya.
Meski menyediakan berbagai produk seperti rengginang, keripik bawang, kacang bawang hingga kue kering, daya saing pedagang tetap tergerus. Faktor harga dan kemudahan transaksi online menjadi keunggulan yang sulit ditandingi pedagang konvensional.
Untuk bertahan, pedagang terpaksa menekan margin keuntungan agar tetap menarik pembeli. Namun langkah ini dinilai hanya solusi jangka pendek yang tidak menyelesaikan persoalan utama, yakni perubahan pola konsumsi masyarakat.
Fenomena ini memperlihatkan tekanan nyata terhadap keberlangsungan pasar tradisional di tengah ekspansi ekonomi digital. Tanpa adaptasi strategi dan dukungan kebijakan, potensi penurunan omzet diperkirakan akan terus berlanjut pada musim-musim berikutnya.
(Red-Garudasatunews)














