SURABAYA, Garudasatunews.id – Fenomena “War Takjil” di Lapangan Kodam Brawijaya Surabaya memunculkan pola baru perilaku pengunjung yang datang lebih awal untuk menghindari kemacetan dan mengantisipasi cuaca tak menentu selama Ramadan 1447 H.
Sejak pukul 16.00 WIB, warga mulai memadati area pasar takjil meski sebagian pedagang masih menata dagangan. Pengunjung memilih menunggu lebih lama di lokasi daripada terjebak kepadatan kendaraan yang biasanya mencapai puncak menjelang pukul 17.00 WIB.
Suasana kebersamaan terlihat ketika warga duduk santai sambil bercengkerama menanti waktu berbuka puasa. Kondisi tersebut menjadi penopang aktivitas pelaku UMKM yang menggantungkan pendapatan dari keramaian pasar musiman itu.
Beragam kuliner dijajakan, mulai dari tahu gejrot, pentol kriwil, hingga jajanan tradisional seperti tahu kocek yang tetap diminati. Di sisi lain, makanan modern seperti pizza aneka topping, sajian barbeque, serta kuliner Korea seperti tteokbokki dan odeng turut meramaikan pilihan menu berbuka.
Aneka minuman segar seperti es blewah, es kuwut, dan es cokelat menjadi pelengkap yang banyak diburu pembeli menjelang azan maghrib. Keberagaman menu menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat interaksi sosial sekaligus perputaran ekonomi kreatif warga.
Namun di balik keramaian, sejumlah pedagang mengaku omzet mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Penjual cireng salju, Ulfa, menyebut perubahan daya beli masyarakat membuat transaksi tidak seramai yang terlihat.
“Kelihatannya ramai, tapi yang benar-benar membeli tidak sebanyak dulu,” ujarnya.
Faktor cuaca yang kerap diguyur hujan pada sore hari juga berdampak langsung pada pendapatan pedagang. Penjual pizza mini, Luvita Sinta Dewi, mengaku khawatir dagangan tidak habis saat hujan turun di waktu-waktu krusial.
Hujan mendadak berisiko membuat stok harian tidak terjual sehingga pedagang harus lebih cermat mengatur produksi dan modal. Fluktuasi harga bahan baku turut menjadi tantangan tambahan bagi pelaku usaha kecil.
Meski menghadapi tekanan ekonomi dan cuaca yang tidak menentu, para pedagang tetap bertahan menjaga tradisi ngabuburit sebagai bagian dari denyut ekonomi rakyat selama Ramadan di Surabaya. (Red-Garudasatunews)















