SURABAYA, Garudasatunews.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat melaksanakan Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan diperkirakan mulai datang pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Khofifah memperkuat imbauan tersebut melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 400.8.1/37860/011.2/2026 tentang Pelaksanaan Salat Istisqa yang ditetapkan di Surabaya pada 20 Oktober 2026.
Surat edaran itu ditujukan kepada para bupati dan wali kota se-Jawa Timur, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, serta pimpinan pondok pesantren. Pemerintah daerah diminta menggerakkan dan memfasilitasi pelaksanaan Salat Istisqa mulai tingkat kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa dan kelurahan, khususnya di daerah terdampak kekeringan.
“Surat edaran ini untuk bisa menyelenggarakan Salat Istisqa secara lebih masif, memohon kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa manfaat dan rahmat,” ujar Khofifah, sebagaimana diberitakan pada Rabu (21/10/2026).
25 Kabupaten/Kota Terdampak Kekeringan
Kondisi kekeringan di Jawa Timur menjadi perhatian serius. Dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa hingga awal Oktober 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan kekeringan.
Pelaksanaan Salat Istisqa diharapkan melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), ulama, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan Islam, takmir masjid, pondok pesantren, aparatur sipil negara (ASN), serta masyarakat luas.
Selain berdoa dan memperbanyak istigfar serta sedekah, masyarakat diimbau menjaga lingkungan dan menghemat penggunaan air. Pemerintah daerah juga diminta memperkuat koordinasi untuk memastikan kebutuhan air bersih warga terdampak tetap terpenuhi.
Waktu dan teknis pelaksanaan Salat Istisqa disesuaikan dengan situasi, kondisi, serta kearifan lokal masing-masing daerah.
Karhutla Ganggu Jaringan Air Bersih
Dampak kekeringan dan karhutla turut dirasakan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Kebakaran di kawasan tersebut berdampak pada jaringan air bersih di tiga desa penyangga di Kabupaten Pasuruan.
Total panjang jaringan pipa yang terdampak mencapai 10.260 meter. Rinciannya, Desa Tambaksari sepanjang 4.000 meter, Desa Jatiarjo 3.750 meter, dan Desa Dayurejo 2.510 meter.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah memetakan jaringan pipa terdampak dan merencanakan pengeboran sumur. Untuk kebutuhan jangka pendek, distribusi air bersih dilakukan guna membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan turunnya hujan. Pemulihan jaringan air, perlindungan sumber air, pencegahan kebakaran, dan distribusi air bersih menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat.
Mitigasi Harus Berjalan Sembari Menunggu Hujan
Khofifah menegaskan bahwa ikhtiar spiritual perlu berjalan beriringan dengan langkah nyata menghadapi kekeringan dan karhutla. Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus menjaga sumber air serta memperkuat gotong royong membantu warga terdampak.
Prediksi hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027 menjadi acuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Namun, perkiraan tersebut bukan jaminan bahwa seluruh wilayah Jawa Timur akan langsung mengalami hujan dengan intensitas yang sama.
Karena itu, pemerintah daerah tetap perlu memantau perkembangan cuaca, memastikan ketersediaan air bersih, dan memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan hingga kondisi kembali membaik.
(Red-Garudasatunews)














