MPLS Sumenep Angkat Budaya Madura Lewat Busana Adat

oleh -33 Dilihat
oleh
MPLS-Sumenep-Angkat-Budaya-Madura-Lewat-Busana-Adaat
MPLS-Sumenep-Angkat-Budaya-Madura-Lewat-Busana-Adaat
banner 468x60

SUMENEP, Garudasatunews.id – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kabupaten Sumenep diwarnai kebijakan penggunaan busana adat Madura oleh siswa, guru, kepala sekolah, hingga tenaga kependidikan. Siswa laki-laki tampil mengenakan pakaian khas Sakera, sementara siswi menggunakan busana Marlena sebagai bagian dari pengenalan budaya lokal di lingkungan sekolah.

Busana Sakera dikenakan siswa laki-laki berupa kaos bergaris merah putih yang dipadukan dengan luaran berwarna hitam dan celana hitam longgar. Adapun siswi mengenakan kebaya merah lengkap dengan jarik atau samper bermotif batik Madura yang merepresentasikan tokoh perempuan Madura, Marlena.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, menegaskan bahwa penggunaan busana adat tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini.

“Imbauan ini memang untuk melestarikan dan mengenalkan budaya adat Madura kepada generasi muda. Selain itu juga untuk menguatkan pendidikan karakter,” kata Iksan, Senin (13/7/2026).

Tidak hanya mengenakan pakaian adat, Dinas Pendidikan juga mengimbau seluruh peserta MPLS menggunakan Bahasa Madura selama pelaksanaan kegiatan di sekolah. Langkah itu dinilai sebagai bagian dari pembiasaan berbahasa daerah yang santun sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Menurut Iksan, penggunaan Bahasa Madura di lingkungan sekolah diharapkan mampu mendukung implementasi pembelajaran berbasis kearifan lokal serta membangun kebanggaan peserta didik terhadap warisan budaya daerah.

Selain itu, setiap sekolah juga diminta menampilkan berbagai kreasi seni dan budaya Madura maupun aktivitas edukatif lainnya yang relevan dengan tujuan MPLS.

Meski demikian, Dinas Pendidikan menegaskan seluruh rangkaian kegiatan wajib mengacu pada ketentuan penyelenggaraan MPLS yang berlaku, yakni bersifat edukatif, inklusif, ramah anak, partisipatif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan maupun perundungan.

Sementara itu, Kepala SD Negeri Kolor II Kecamatan Kota Sumenep, Warjito, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan tersebut. Menurutnya, pengenalan budaya Madura melalui kegiatan MPLS menjadi langkah strategis untuk membangun rasa memiliki terhadap budaya daerah sejak usia sekolah dasar.

“Ini untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal Madura di dalam diri anak-anak. Kami juga mengenalkan tarian Madura agar siswa lebih mengenal kesenian daerahnya,” ujarnya.

Pelaksanaan MPLS bertema budaya lokal tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam mengintegrasikan pelestarian budaya dengan kegiatan pendidikan tanpa mengabaikan prinsip-prinsip penyelenggaraan MPLS yang telah ditetapkan pemerintah.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.