Mepe Kasur Osing Diyakini Tangkal Penyakit

oleh -62 Dilihat
oleh
Mepe Kasur Osing Diyakini Tangkal Penyakit
Tradisi suku osing Banyuwangi Mepe Kasur kembali dilaksanakan bulan Dzulhijjah.
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Ribuan warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi tahunan Mepe Kasur saat memasuki bulan Dzulhijjah. Tradisi turun-temurun masyarakat Suku Osing itu dilakukan dengan menjemur kasur merah-hitam secara serentak di sepanjang jalan desa sebagai bagian dari ritual adat bersih desa menjelang bulan haji.

Fenomena ribuan kasur dijemur bersamaan sejak pagi menjadi pemandangan mencolok yang hanya muncul setahun sekali. Tradisi tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian Festival Tumpeng Sewu yang berlangsung pada 21–22 Mei 2026.

Warga setempat meyakini kasur bukan sekadar perlengkapan rumah tangga, melainkan benda yang memiliki nilai spiritual dan simbol perlindungan keluarga. Prosesi penjemuran pun dilakukan dengan aturan adat ketat, mulai dari waktu pelaksanaan hingga ritual doa yang wajib dijalankan.

Tokoh adat Desa Kemiren, Suhaimi, menegaskan penjemuran kasur dilakukan sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Dalam prosesi itu, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah sebagai simbol permohonan keselamatan agar terhindar dari penyakit dan bencana.

“Menjemur kasur dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Saat menjemur, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah, tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit,” ujar Suhaimi.

Menurut kepercayaan masyarakat Osing, seluruh kasur wajib dimasukkan kembali ke dalam rumah sebelum matahari terbenam. Pelanggaran terhadap aturan adat tersebut diyakini dapat mengurangi khasiat spiritual kasur yang dipercaya membawa berkah dan menjaga kesehatan penghuni rumah.

“Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya menurun. Apalagi kalau kemalaman. Bisa ndak sehat,” tambahnya.

Selain sarat ritual, warna merah dan hitam pada kasur juga mengandung makna simbolik. Warga percaya warna merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam menjadi simbol kelanggengan dalam kehidupan rumah tangga.

Salah seorang warga Kemiren, Mbah Pi’i, mengungkapkan kasur merah-hitam menjadi simbol doa bagi pasangan suami istri agar mampu menjaga keberanian dan keharmonisan keluarga dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Tradisi Mepe Kasur juga memperlihatkan penanda status sosial di tengah masyarakat Osing. Ketebalan kasur gantung dipercaya mencerminkan tingkat kesejahteraan pemilik rumah. Bahkan, kasur tersebut lazim diberikan kepada pasangan pengantin baru sebagai simbol ikatan keluarga dan keberlanjutan tradisi leluhur.

Rangkaian ritual adat di Desa Kemiren dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian Kuntulan, arak-arakan Barong keliling desa, hingga selamatan Tumpeng Sewu dan Mocoan Lontar Yusuf pada malam hari. Tradisi itu menjadi bukti kuat masyarakat Osing masih mempertahankan warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga di tengah arus modernisasi.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.