Menjaga Kompas Moral di Era Digital: Dialog Romo Tawar dan Gus Arief dari Pendopo Rembuk Sworo

oleh -40 Dilihat
oleh
banner 468x60

 

Sidoarjo,garudasatunews.id, — ​Jarum jam baru saja melewati pukul 10 malam ketika angin dingin melintas di antara tiang kayu Pendopo Rembuk Sworo, Sidokerto, Kecamatan Buduran, pada hari Senin yang sunyi. Di bawah keheningan malam yang mulai merayap, aroma kopi hitam pekat berbaur hangat dengan kepulan asap rokok yang perlahan-lahan menghilang ke udara. Tempat ini, dengan dinding anyaman bambunya, memang kerap menjadi saksi bisu berkumpulnya para pemikir, budayawan, hingga tokoh agama lokal untuk mengurai benang kusut persoalan sosial. Malam itu, timestamp di spanduk Marlboro di latar belakang menunjukkan waktu 2026:06:08 22:20, menetapkan waktu percakapan yang mendalam ini di tengah temaram cahaya warkop.

 

​Di sudut meja putih yang dipenuhi berbagai objek seperti kacamata hitam, kunci, dan asbak naga yang unik, duduk Romo Tawar, seorang penata panggung sekaligus pegiat kesenian Ludruk Bintang Timur yang rambutnya mulai memutih dimakan usia. Tatapan matanya yang tajam menyiratkan kekhawatiran yang mendalam ketika jemarinya yang menggenggam rokok mengetuk-ngetuk cangkir lurik di tengah sunyinya malam Buduran. Bagi Romo Tawar, panggung ludruk bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan sebuah madrasah kultural di mana tuntunan moral dan unggah-ungguh (tata krama) Jawa disuntikkan secara halus kepada penonton lewat lakon-lakon kehidupan.

 

​Di hadapannya, Gus Arief, seorang tokoh muda kharismatik dari Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah, Siwalanpanji, mendengarkan dengan takzim. Penampilannya malam itu jauh dari kesan kaku; ia berpakaian santai layaknya anak gaul zaman sekarang dengan gaya kasual—mengenakan kaos cokelat muda yang bersih dan rapi, dengan tangan bersedekap, sebuah perpaduan yang menarik antara modernitas dan wibawa khas pesantren yang sarat sejarah. Ponpes Al-Hamdaniyah sendiri dikenal sebagai salah satu mercusuar ilmu agama tertua di Sidoarjo, tempat di mana fondasi akhlak luhur ditempa selama berabad-abad melalui kitab-kitab suci dan keteladanan para ulama.

​Perbincangan mereka mengalir tanpa sekat sejak pukul 22.00 WIB, bermula dari keprihatinan terhadap gaya hidup anak muda zaman sekarang yang kerap terjebak dalam dunia maya hingga larut malam, acuh terhadap realitas sekeliling.

 

Romo Tawar membuka obrolan dengan nada getir, mengeluhkan bagaimana derasnya arus teknologi perlahan menggerus andhap asor—sifat rendah hati dan hormat kepada yang lebih tua. Ia merasa gawai telah merebut panggung interaksi sosial yang nyata, menggantikannya dengan panggung pamer virtual yang miskin empati, yang secara visual direfleksikan oleh suasana sunyi di sekitar mereka di pendopo malam itu.

 

​”Dulu, Gus, anak muda lewat di depan orang tua itu membungkuk, ada rasa pekewo” ujar Romo Tawar sambil menghela napas panjang menembus kepulan asap rokoknya. Ia menambahkan bahwa dalam dunia ludruk, pesan moral selalu menekankan bahwa kepintaran tanpa etika akan berujung pada kehancuran. Namun kini, di era media sosial, batasan antara yang sopan dan yang tidak sopan menjadi kabur demi sebuah konten viral, seolah-olah adab telah tergusur oleh angka pengikut dan tanda suka di layar gawai.

 

​Menanggapi hal itu, Gus Arief mengangguk setuju seraya membenarkan dari sudut pandang religius. Beliau menjelaskan bahwa di dunia pesantren, ada kaidah emas yang berbunyi al-adabu fauqal ‘ilmi, bahwa adab itu kedudukannya jauh di atas ilmu pengetahuan. Gus Arief menyayangkan betapa kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diimbangi dengan filter spiritual yang kuat, sehingga banyak orang cerdas secara digital namun mengalami degradasi atau penurunan nilai akhlak dalam kehidupan nyata.

 

​Titik temu pemikiran kedua tokoh ini semakin menguat saat mereka membahas bagaimana algoritma internet sering kali memanjakan ego manusia. Romo Tawar melihat bahwa anak muda zaman sekarang mudah sekali mencaci di kolom komentar tanpa memikirkan perasaan orang lain, sesuatu yang sangat tabu dalam filosofi ketimuran. Sementara Gus Arief memandang fenomena tersebut sebagai hilangnya prinsip tabayun (konfirmasi atau cek ricek) dan terkikisnya rasa takut akan dosa lisan, yang kini telah berpindah ke ujung jempol.

 

​Di tengah remang lampu pendopo dan jarum jam yang terus berputar mendekati tengah malam, keduanya sepakat bahwa teknologi tidak bisa dimusuhi, melainkan harus dikendalikan dengan bijaksana. Romo Tawar berniat menyelipkan pesan literasi digital lewat banyolan ludruknya, sementara Gus Arief berkomitmen memperketat benteng akhlak di pesantren. Tak sekadar menjadi wacana di atas meja dengan asbak naga dan gelas kopi, keresahan malam itu disepakati akan berlanjut ke dalam program podcast khusus yang nantinya juga akan diproduksi langsung dari Pendopo Rembuk Sworo demi merangkul generasi milenial dan Gen Z secara lebih luas.

 

​Ketika jam tepat menunjukkan pukul 12 malam dan pergantian hari mulai menyapa, perbincangan hangat di Pendopo Rembuk Sworo itu pun harus diakhiri. Di samping gerakan mandiri, kedua narasumber ini menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo ikut andil menelurkan kebijakan atau program konkret—seperti penguatan kurikulum karakter lokal di sekolah atau ruang kreasi digital yang sehat—untuk meminimalisir krisis moral ini. Sambil merapikan kaos kasualnya, Gus Arief bersama Romo Tawar melangkah meninggalkan pendopo yang mulai sunyi, bersiap menyuarakan kembali kegelisahan ini lewat mikrofon podcast di pertemuan berikutnya. (Faisal dan Tim)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.