Memikat Wisatawan, Wisata Petik Melon BUMDes Kalianget Timur Jadi Primadona Baru di Sumenep

oleh -43 Dilihat
oleh
banner 468x60

 

​SUMENEP, Garudasatunews.id — Sektor pariwisata berbasis pertanian (agrotourism) di Kabupaten Sumenep kian menggeliat. Destinasi Wisata Petik Melon yang berlokasi di Dusun Lisun, Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, sukses mencuri perhatian publik sejak resmi dibuka pada Minggu (31/5/2026).

Destinasi inovatif ini menawarkan perpaduan segar antara rekreasi keluarga dan edukasi pertanian.

​Di sini, pengunjung tidak hanya sekadar pelancong, melainkan diajak merasakan langsung sensasi menjadi petani dengan memilah dan memetik buah melon segar langsung dari pohonnya.

 

​Wakil Ketahanan Pangan Kalianget Timur, Bela Pamungkas, mengungkapkan bahwa respons dan antusiasme masyarakat sangat tinggi sejak hari pertama peluncuran.

​”Alhamdulillah, respons masyarakat luar biasa. Mereka sangat menikmati pengalaman memetik melon sendiri langsung di kebun. Selain berburu buah segar, area perkebunan ini juga menjadi spot foto favorit yang asri bagi para pengunjung,” ujar Bela saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026).

 

​Edukasi Pertanian dan Kualitas Rasa yang Premium :

​Bela menjelaskan bahwa konsep utama dari destinasi ini adalah agroeduwisata. Pengunjung, terutama anak-anak dan generasi muda, dapat belajar langsung mengenai proses pascapanen serta karakteristik buah melon yang siap petik.

​”Pengunjung diberikan kebebasan untuk memilih, memetik, dan langsung mencicipi melon pilihan mereka. Ini yang memberikan experience berbeda dan berkesan dibanding tempat wisata konvensional,” tambahnya.

 

​Dari aspek kualitas, intervensi perawatan yang optimal menghasilkan buah dengan cita rasa premium. Mayoritas pengunjung mengaku puas dengan tingkat kemanisan buah yang dihasilkan. Bahkan, efek ketagihan ini membuat beberapa wisatawan datang berkali-kali.

​”Banyak yang memuji rasa melonnya sangat manis. Bahkan, ada pengunjung yang tercatat sudah kembali ke sini sampai empat kali dalam waktu singkat,” kata Bela.

 

​Menjawab Tantangan Harga dan Prospek Berkelanjutan Lewat Greenhouse :

​Menanggapi dinamika di masyarakat terkait harga melon yang dipatok Rp25.000 per kilogram, Bela menilai angka tersebut sangat rasional dan kompetitif di pasar lokal.

​”Nominal Rp25 ribu itu masih sangat wajar. Komunitas petani melon di Sumenep sudah menetapkan standardisasi harga yang sama. Jika dikomparasikan dengan daerah tetangga seperti Pamekasan, harga kita justru sangat bersaing, apalagi konsumen mendapatkan jaminan kesegaran maksimal (fresh from the garden),” jelasnya.

 

​Dampak Ekonomi Berbasis BUMDes :

​Wisata yang terletak di wilayah RT 06 RW 01 Dusun Lisun ini dikelola secara profesional oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui skema ini, perputaran ekonomi langsung berdampak pada kesejahteraan warga lokal yang dilibatkan aktif dalam operasional kebun.

 

​Hingga saat ini, produktivitas lahan tercatat sangat positif. Dari total 876 tanaman melon yang membentang, lebih dari 120 buah telah laku terjual dalam waktu singkat.

​Menatap prospek ke depan, pengelola BUMDes tidak ingin musiman. Mereka tengah merancang strategi keberlanjutan produksi dengan mengadopsi sistem rumah kaca (greenhouse).

 

Langkah modernisasi ini diambil agar pasokan melon tetap stabil tanpa terpengaruh anomali cuaca, sekaligus mengukuhkan Desa Kalianget Timur sebagai pelopor ketahanan pangan dan wisata edukasi di Sumenep.(adc)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.