Mahasiswa Binus Ubah Sampah Jadi Furniture Bernilai

oleh -44 Dilihat
oleh
Mahasiswa Binus Ubah Sampah Jadi Furniture Bernilai
Pameran karya mahasiswa Binus Malang.
banner 468x60

MALANG, Garudasatunews.id – Upaya pengurangan sampah plastik di Kota Malang mulai diarahkan pada pengembangan produk bernilai ekonomi. Mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang menggagas program pengolahan sampah plastik menjadi produk dekorasi dan furniture yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan bahan baku daur ulang konvensional.

Program tersebut dijalankan di Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang, dengan menggabungkan aspek pengelolaan lingkungan, desain produk, serta pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular.

Student Development Associate Manager Binus Malang, Yoseph Benny Kusuma, mengatakan inovasi tersebut melibatkan sejumlah program studi untuk memastikan produk hasil daur ulang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mampu bersaing secara ekonomi di pasar.

Menurut Benny, mahasiswa dari Program Studi Desain Interior berperan dalam merancang produk, sementara kajian nilai jual dan strategi bisnis didukung oleh akademisi dari bidang kewirausahaan.

“Produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara desain, tetapi juga memiliki potensi keuntungan secara ekonomi,” ujar Benny, Minggu (14/6/2026).

Dalam pelaksanaannya, pendampingan kepada masyarakat dilakukan secara berkelanjutan. Program tersebut juga melibatkan bidang Public Relations guna memperkuat narasi dan nilai sosial dari setiap produk hasil daur ulang yang dipasarkan.

Benny menilai pendekatan tersebut penting karena konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga nilai dan dampak sosial yang melekat pada produk yang dibeli.

Ia juga menyoroti masih besarnya volume sampah yang dihasilkan di Kota Malang. Menurutnya, peningkatan nilai tambah melalui proses pengolahan menjadi produk jadi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari sampah plastik yang selama ini hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Jika hanya dijual dalam bentuk bahan baku, nilai ekonominya relatif rendah. Melalui proses pengolahan dan desain, nilai jualnya dapat meningkat,” katanya.

Program tersebut diharapkan menjadi model awal pengembangan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan tutup botol plastik yang selama ini memiliki nilai jual terbatas.

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, menilai inisiatif tersebut sejalan dengan kebijakan pengelolaan sampah berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang selama ini diterapkan pemerintah daerah.

Menurut Raymond, inovasi pengolahan sampah menjadi produk jadi berpotensi memperkuat peran bank sampah yang selama ini sebagian besar masih menjual hasil pemilahan dalam bentuk bahan mentah.

“Hari ini muncul inovasi yang mendorong sampah plastik, khususnya tutup botol, diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dijual dalam bentuk bahan baku,” ujarnya.

Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang menunjukkan saat ini terdapat sekitar 400 bank sampah yang aktif beroperasi di wilayah tersebut. Kehadiran inovasi pengolahan sampah menjadi furniture dan produk dekoratif dinilai dapat membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus mendukung pengurangan timbulan sampah plastik di lingkungan perkotaan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.