PAMEKASAN Garudasatunews.id – Performa Madura United FC kian memprihatinkan setelah rentetan hasil buruk menyeret klub ini mendekati jurang degradasi Super League 2025–2026. Hingga pekan ke-23, tim berjuluk Laskar Sape Kerrab hanya berjarak dua poin dari batas atas zona merah, situasi yang memicu tanda tanya besar atas konsistensi manajemen dan performa skuad sepanjang musim.
Secara statistik, Madura United tertahan di peringkat 14 klasemen sementara dengan koleksi 20 poin dari 4 kemenangan, 8 hasil imbang, dan 11 kekalahan. Produktivitas gol yang minim—hanya 22 gol—berbanding kontras dengan 36 kali kebobolan, mencerminkan lemahnya koordinasi lini pertahanan sekaligus tumpulnya daya gedor.
Selisih poin yang tipis membuat posisi mereka jauh dari kata aman. PSBS Biak yang berada di posisi 16 atau batas atas zona degradasi telah mengumpulkan 18 poin, sementara Persatu Tuban di peringkat 15 hanya terpaut satu angka. Artinya, satu kekalahan saja berpotensi menyeret Madura United langsung masuk ke zona merah.
Keterpurukan ini tak lepas dari tren negatif dalam beberapa pertandingan terakhir. Yang paling mencolok adalah kekalahan telak tanpa balas dari Persib Bandung pada pekan ke-23 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, 26 Februari 2026. Hasil tersebut mempertegas rapuhnya mental tanding tim saat menghadapi klub papan atas.
Situasi ini memaksa tim asal Pulau Madura bekerja ekstra keras untuk menyelamatkan musim. Tantangan berikutnya pun tidak ringan. Mereka dijadwalkan menghadapi Malut United pada pekan ke-24 di Stadion Gelora Madura Rato Pemelingan (SGMRP) Pamekasan, 3 Maret 2026—lawan yang saat ini bercokol di empat besar klasemen dengan raihan 41 poin.
Pelatih Carlos Periera mengakui timnya tengah berada dalam tekanan dan membutuhkan evaluasi menyeluruh. Ia menegaskan fokus kini diarahkan pada pembenahan performa demi keluar dari tren negatif dan kembali ke jalur kemenangan.
Namun publik menanti lebih dari sekadar pernyataan evaluatif. Dengan kompetisi yang terus berjalan dan jarak poin yang kian menipis, Madura United dituntut segera menunjukkan perubahan nyata di lapangan, bukan hanya janji perbaikan. Tanpa langkah konkret, ancaman degradasi bukan lagi kemungkinan, melainkan risiko yang semakin dekat menjadi kenyataan. (Red-Garudasatunews)














