Lonjakan Minyak Paksa Bank Sentral Tahan Suku Bunga

oleh -59 Dilihat
oleh
Lonjakan Minyak Paksa Bank Sentral Tahan Suku Bunga
Foto ilustrasi.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Gejolak pasar energi global akibat konflik bersenjata yang melibatkan Iran memasuki pekan kelima mulai menekan stabilitas ekonomi dunia, memicu lonjakan harga minyak dan memaksa bank sentral menahan rencana penurunan suku bunga.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan menembus 113 dolar AS per barel atau melonjak sekitar 36 persen sejak awal konflik, dipicu eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel serta terganggunya jalur distribusi energi, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz.

Kondisi ini segera diterjemahkan sebagai ancaman inflasi baru. Sejumlah bank sentral di Eropa hingga negara berkembang memilih menahan pelonggaran moneter dan bersiap menghadapi tekanan harga yang meningkat tajam.

Di negara berkembang, dampaknya lebih terasa. Di Turki, sektor perbankan mulai menaikkan biaya pinjaman secara agresif. Sumber industri menyebut kenaikan bunga pinjaman komersial mencapai 5 hingga 6 poin persentase, mendekati level 50 persen, meski suku bunga acuan masih ditahan di 37 persen.

Tekanan serupa menghantam India. Nilai tukar rupee anjlok ke level terendah sepanjang sejarah di 94,83 per dolar AS pada 27 Maret, melemah hampir 4 persen dalam sebulan dan lebih dari 5 persen sejak awal tahun.

Merespons kondisi tersebut, bank sentral India memperketat posisi valuta asing perbankan sebagai langkah defensif. Analis menilai kebijakan ini sebagai eskalasi serius dalam menjaga stabilitas mata uang, dengan proyeksi dua kali kenaikan suku bunga dalam tahun berjalan.

Sementara itu, bank sentral Afrika Selatan menahan suku bunga di 6,75 persen di tengah peringatan lonjakan inflasi bahan bakar yang berpotensi melampaui 18 persen pada kuartal kedua, yang dapat mendorong inflasi utama mendekati 4 persen.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi global. Permintaan terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor dua tahun melemah, tercermin dari penurunan rasio bid-to-cover menjadi 2,44—terendah sejak Mei 2024.

Imbal hasil obligasi tersebut melonjak ke 3,96 persen, mengindikasikan ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan tambahan.

Di Inggris, bank sentral secara bulat mempertahankan suku bunga di 3,75 persen, sembari memberi sinyal bahwa kenaikan masih menjadi opsi jika konflik berlanjut dan tekanan inflasi meningkat.

Langkah serupa diambil oleh bank sentral di kawasan Eropa dan Kanada yang menunda pelonggaran kebijakan, dengan pasar mulai memperhitungkan potensi pengetatan kembali pada akhir tahun.

Analis energi memperingatkan dampak ekonomi global berpotensi memburuk jika jalur distribusi minyak tidak segera pulih. Penutupan Selat Hormuz dalam waktu lebih lama dinilai dapat memperdalam krisis pasokan dan memperparah tekanan inflasi.

Di tengah ancaman perlambatan ekonomi dan lonjakan harga energi, bank sentral global kini menghadapi dilema serius. Strategi pengendalian inflasi pascapandemi dinilai tidak lagi memadai dalam menghadapi krisis energi yang dipicu konflik geopolitik berkepanjangan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.